Pengobatan Sindrom Nefrotik

SehatFresh.com – Sindrom nefrotik adalah gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh manusia kehilangan terlalu banyak protein di dalam urine. Meski jarang terjadi, sindrom nefrotik ini dapat dialami oleh siapa saja. Tetapi sindrom nefrotik umumnya terdeteksi pertama kali pada anak-anak, terutama yang berusia di antara dua hingga lima tahun.

Sindrom Nefrotik merupakan akibat dari rusaknya pembuluh darah kapiler yang berada di bagian glomerulus pada ginjal. Glomerulus pada gijal berfungsi sebagai penyaring sampah atau limbah di dalam tubuh dan sebagai penyaring kandungan air yang berlebih dalam darah lalu menirimkannya ke kandung kemih untuk kemudian diproduksi sebagai urine.

Pada tubuh yang sehat, glomerulus berfungsi dengan baik dan menjaga protein agar tetap berada di dalam aliran darah serta tidak bocor ke kandung kemih dan terbawa urine. Ginjal yang sehat memproduksi urine dengan kandungan protein lebih dari satu gram setiap harinya.

Pada pnderita sindrom nefrotik, glomerulus mengalami kerusakan yang menyebabkan bocornya lebih dari tiga gram protein kedalam urine dalam satu hari. Kebocoran ini meyebakan darah kekurangan protein. Protein dalam darah diperlukan utuk membantu pengaturan cairan di seluruh tubuh, karena protein berfungsi sebagai spons yang menyerap cairan ke dalam aliran darah.

Gejala yang timbul dari sindrom nefrotik

  • Berkurangnya nafsu makan.
  • Pembengkakan kelopak mata.
  • Nyeri pada perut.
  • Pengkisutan otot.
  • Pembengkakan jaringan akibat penimbunan garam dan air.
  • Air kemih berbusa.

Pengobatan untuk sindrom nefrotik

Pengobatan untuk sindrom nefrotik dilakukan dengan menangani kondisi yang menyebabkan gangguan tersebut. Apabila gangguan timbul akibat penyakit tertentu, seperti diabetes, gagal jantung, dan lain sebagainya, pengobatan diberikan untuk menangani penyakit itu terlebih dahulu. Untuk memastikan penyebab dari timbulnya sindrom nefrotik yang Anda alami, dokter pasti akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Ada tiga jenis pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis sindrom nefrotik, yakni:

  1. Tes urine

Ketika melakukan jenis pemeriksaan ini, dokter mungkin meminta Anda untuk mengumpulkan sampel urine dalam kurun waktu 24 jam guna mendapatkan hasil yang akurat. Dengan tes urine, kelainan dalam urine Anda, seperti kadar protein dalam urine, dapat diketahui. Jika hasil tes menunjukkan kadar protein dalam urine lebih tinggi dari normal, hal itu mungkin mengarah pada sindrom nefrotik.

  1. Tes darah

Jika Anda mengalami sindrom nefrotik, hasil tes darah akan menunjukkan tingkat protein albumin (hipoalbuminemia) dan tingkat protein darah rendah (lebih kecil dari angka normal). Sedangkan, kadar kolestrol dan trigliserida dalam darah mengalami peningkatan.

  1. Biopsi

Dokter mungkin merekomendasikan kepada Anda untuk melakukan jenis pemeriksaan biopsi. Selama prosedur, dokter akan memasukkan jarum khusus ke dalam kulit dan kemudian diarahkan menuju organ ginjal. Dokter akan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal untuk diuji di laboratorium.

Setelah melakukan pemeriksaan dan hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Anda positif mengalami sindrom nefrotik, dokter pasti akan langsung merujuk Anda untuk melakukan pengobatan. Hal ini dilakukan untuk memperlambat dan mencegah kerusakan pada organ ginjal. Pengobatan juga dilakukan untuk memperbaiki kondisi dari si penderita. Biasanya dokter akan memberikan resep obat yang dapat membantu Anda untuk mengontrol tanda dan gejala sekaligus mengobati sindrom nefrotik. Berikut beberapa jenis obat yang biasa digunakan untuk menangani gangguan ini:

  1. Obat tekanan darah

Obat yang sering digunakan dokter untuk menangani sindrom nefrotik adalah angiotensin-converting enzyme inhibitor. Jenis obat itu dapat mengurangi jumlah protein yang masuk ke dalam urine. Masih ada beberapa jenis obat lain yang dapat mengontrol tekanan darah Anda, seperti benazepril (Lotensin), kaptopril (Capoten), enalapril (Vasotec), angiotensin II receptor blocker, losartan (Cozaar), dan valsartan (Diovan).

  1. Pil air (diuretik)

Jenis obat ini dapat membantu Anda untuk mengendalikan pembengkakan, yaitu dengan meningkatkan produksi cairan dalam organ ginjal. Ada beberapa jenis obat diuretik yang biasa diresepkan oleh dokter, salah satunya spironolactone (Aldactone).

  1. Obat kolestrol

Obat-obatan yang disebut statin dapat membantu menurunkan kadar kolestrol. Anda dapat menggunakan atorvastatin (Lipitor), fluvastatin (Lescol), lovastatin (Altoprev, Mevacor), pravastatin (Pravachol), rosuvastatin (Crestor), dan simvastatin (Zocor) untuk menangani kadar kolestrol Anda.

  1. Obat pengencer darah

Obat yang disebut dengan istilah antikoagulan dapat mengurangi kemampuan darah untuk membeku atau dengan kata lain mengurangi risiko terjadinya pembekuan darah. Dokter biasanya menggunakan obat antikoagulan heparin atau warfarin.

  1. Obat penekan sistem kekebalan tubuh

Obat seperti kortikosteroid dapat mengontrol sistem kekebalan tubuh sekaligus menurunkan peradangan yang menyertai gangguan ginjal tertentu.

Selain menggunakan obat-obatan, dokter biasanya akan menyuruh Anda untuk melakukan perubahan pada gaya hidup yang mungkin berkontribusi terhadap gangguan ginjal yang Anda alami. Perubahan gaya hidup yang dapat Anda lakukan, antara lain:

  • Mengonsumsi makanan rendah garam. Hal ini dapat membantu Anda mengontrol pembengkakkan (edema) yang Anda alami.
  • Mengurangi jumlah lemak dan kolestrol. Anda harus lebih selektif dalam memilih makanan yang akan Anda konsumsi. Dengan begitu, kadar kolestrol dalam darah lebih dapat terkontrol.

Sumber gambar : www.SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY