Pentingnya Imunisasi Polio untuk Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Karena daya tahan tubuh bayi yang masih mudah terganggu dan lemah, tentunya mereka membutuhkan asupan gizi serta vitamin yang cukup untuk menambah daya tahan mereka. Serta untuk menghindarkan mereka dari berbagai jenis penyakit baik saat mereka bayi maupun saat dewasa nanti, oleh karena itu pemberian imunisasi sangtlah penting dilakukan.

Sebagai orang tua kita perlu mengetahui jenis-jenis dan pentingnya sebuah imunisasi, dewasa ini banyak sekali penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan mengenai imunisasi dan kesehatan bayi. Namun, beberapa kasus seperti vaksin palus meneyebabkan para orangtua menjadi takut dan ragu untuk memberikan imunisasi bagi bayi.

Imunisasi sangat penting diberikan kepada bayi sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit yang mungkin dapat menyerang. Salah satu jenis imunisasi adalah imunisasi poilo, imunisasi polio begitu penting karena dapat mencegah penyakit polio yang merupakan penyakit infeksi oleh virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Jenis imunisasi ini merupakan program yang diwajibkan di Indonesia, sebagai bentuk penangan terhadap banyaknya kasus terjadinya polio di Indonesia.

Imunisasi polio adalah upaya untuk membuat seseorang kebal terhadap virus polio dengan cara memasukkan vaksin polio ke dalam tubuh yang mengandung virus yang telah dilemahkan. Dengan demikian, virus yang lemah tidak dapat menginfeksi tubuh, namun itu sudah cukup untuk merangsang tubuh membentuk antibodi sebagai respon imun untuk melawannya. Ketika antibodi sudah terbentuk, maka apabila virus polio datang menyerang di kemudian hari, maka akan langsung dibunuh dan tidak sampai menimbulkan penyakit polio.

Tujuan pemberian imunisasi polio adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit polimielitis. Oleh karena itu manfaat imunisasi polio adalah mencegah penyakit polio atau lumpuh layu baik pada perorangan maupun secara luas pada masyarakat. Hal ini dikarenakan apabila sebagian besar terimunisasi maka yang lain juga akan terlindungi dari penularan penyakt polio.

Pemberian Imunisasi Polio sendiri terdiri dari dua macam vaksin polio, yaitu vaksin virus polio oral (OPV = Oral Polio Vaccine) dan Incativated Polio Vaccine (IPV). Pemberian imuniasasi polio di Indonesia yang sering digunakan adalah OPV. Cara Pemberian Vaksin polio OPV yang mengandung virus yang sudah dilemahkan diberikan secara oral atau diteteskan langsung pada mulut anak sebanyak 2 tetes secara langsung atau dicampur dengan gula pada sendok. Sedangkan vaksin polio IPV yang mengandung virus yang sudah dimatikan diberikan melalui suntikan.

Imuniasasi polio tidak hanya bisa diberikan kepada anak-anak saja, melainkan imunisasi ini dapat diberikan kepada orang dewasa. Vaksin polio untuk orang dewasa juga diberikan dengan gabungan vaksin lain seperti DTP. Biasanya orang dewasa jarang menerima vaksin ini karena sudah mendapatkan vaksin ketika masih anak-anak. Hanya saja akan sangat diperlukan jika belum pernah menerima vaksin ini. Ibu hamil dan ibu menyusui yang belum pernah mendapatkan vaksin bisa menerima vaksin polio karena sangat aman.

Penyebaran virus polio bisa masuk ke dalam tubuh melalui kontak langsung lewat perantara kotoran manusia yang terkena infeksi polio dan air. Polio merupakan penyakit yang bisa menyebabkan resiko kesehatan serius seperti kelumpuhan dan kematian. Banyak orangtua yang ketakutan untuk memberikan imunisasi polio, namun Anda perlu mengetahui bahaya yang ditimbulkan jika imunisasi ini tidak diberikan. Salah satunya adalah terkena penyakit polio, berikut adalah gejala yang ditimbulkan oleh penyakit polio:

  • Demam tiba-tiba, baik terjadi pada bayi, anak-anak dan orang dewasa.
  • Rasa lelah yang berlebihan.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala seperti saat terkena flu.
  • Rasa sakit dan lelah pada bagian leher dan punggung.
  • Rasa sakit pada badan jika digunakan untuk bergerak.

Selain gejala umum diatas, penyakit polio dapat dibedakan menjadi beberapa jenis namun memiliki gejala yang hampir sama, berikut gejala penyakit polio berdasarkan jenisnya:

  1. Gejala Polio Nonparalitik

Penderita yang terkena kontak langsung dengan virus polio nonparalitik (polio yang tidak menyebabkan kecacatan / kelumpuhan) bisa mengalami gejala selama 1 – 10 hari, seperti berikut ini:

  • Demam tinggi secara tiba-tiba.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan sehingga bayi dan anak – anak sulit makan dan minum.
  • Sering muntah dan bisa menjadi dehidrasi.
  • Tubuh akan terasa sangat lelah sehingga tidak bersemangat.
  • Sakit jika disentuh pada punggung.
  • Punggung menjadi sangat kaku.
  • Kaki dan lengan terasa sakit dan kaku.
  • Semua otot tubuh menjadi sangat lemah.
  • Berbagai gejala meningitis.

2. Gejala Polio Paralitik

Polio paralitik adalah jenis polio yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan akibat yang sangat fatal untuk penderita. Ada tiga jenis polio paralitik, yaitu:

  • Polio tulang belakang : virus menyerang semua bagian sum-sum tulang belakang.
  • Bulbar polio : virus menyerang bagian batang otak.
  • Polio bulbospinal : virus polio yang menyerang bagian batang otak dan sum-sum tulang belakang.

Gejala awal polio paralitik biasanya terjadi waktu 7 hari sejak terkena infeksi, yaitu:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pencernaan
  • Otot dan sendi tubuh menjadi lebih lemah.

Gejala akhir polio paralitik akan berkembang setelah 7 hari, yaitu:

  • Tubuh mengalami kehilangan refleks
  • Otot tubuh menjadi sangat sakit dan tidak bisa digerakkan.
  • Salah satu bagian tubuh menjadi tipis dan biasanya hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh saja.

3. Gejala Sindrom Setelah Polio

Sindrom setelah polio atau sindrom paska polio adalah semua gejala polio yang muncul setelah penderita berumur lebih dari 35 tahun, untuk semua penderita yang pernah terkena polio. Berikut ini gejala sindrom setelah polio

  • Otot dan sendi tubuh menjadi sangat lemah dan sering terasa nyeri.
  • Tubuh menjadi sangat lemah sehingga sulit mengerjakan berbagai aktifitas termasuk pekerjaan yang ringan.
  • Otot menjadi tidak berfungsi.
  • Terjadi masalah gangguan pernafasan.
  • Gangguan emosi yang sangat berat.
  • Tidak bisa bernafas dengan baik terutama saat tidur.
  • Tubuh tidak bisa menahan udara dingin dengan baik.
  • Gangguan kognitif seperti sulit mengingat dan masalah konsentrasi.
  • Emosi menjadi tidak stabil dan bisa terkena depresi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY