Pentingnya Membatasi Asupan Garam Dan Gula Sejak Dini

SehatFresh.com – Asupan garam dan gula tambahan merupakan hal yang berpengaruh pada kesehatan termasuk pada anak-anak. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal Pediatrics, makanan balita yang dijual di pasaran cenderung mengandung garam dan gula yang tinggi. Dalam studi tersebut, peneliti juga melihat jumlah natrium dan gula pada makan malam, makanan ringan, sereal kering, jus dan makanan penutup. Dari 79 produk gandum dan buah-buahan kemasan untuk balita, 41 mengandung gula tambahan dan 35 produk tersebut sepertiga kalorinya berasal dari gula. Selain itu, 72% dari makanan tersebut juga mengandung sodium tinggi (lebih dari 210 miligram per makanan).

Belum ada standar yang jelas kebutuhan natrium bagi usia dibawah 4 tahun. Jika didasarkan pada kebutuhan dewasa yang batasannya 2400mg, maka kebutuhan garam balita sekitar 2-3% kebutuhan harian dewasa atau dalam sehari sekitar 300mg. Sedangkan kebutuhan gula pada anak tidak lebih dari 10% total kebutuhan energi yang ia butuhkan, demikian menurut WHO. Dengan demikian, pada anak usia 1-3 tahun dengan kebutuhan energi rata-rata hanya 1000 kkal, maka kebutuhan gula anak usia 1 tahun maksimal hanya 25gram dalam satu hari. Pada anak usia 3-6 tahun dengan kebutuhan energi rata-rata 1550 kilo kalori, maka kebutuhan gula tidak lebih dari 38 gram per hari.

Pola makan tinggi garam dan gula tidak baik bagi kesehatan. Kelebihan asupan makanan tinggi gula dan garam di awal kehidupan dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan preferensi untuk makanan seperti di kemudian hari, meningkatkan risiko obesitas dan penyakit terkait yang terkait dengan obesitas. Oleh karena itu, asupan garam dan gula perlu dibatasi dengan lebih menekankan pada pola makan gizi seimbang yang sangat penting untuk menunjang pertumbuhan anak. Ketika mengolah bahan makanan, bahan makanan yang dipilih hendaknya bahan yang alami, segar, serta tidak mengandung zat aditif.

Preferensi makan anak sangat ditentukan dari pola makan anak sejak kecil. Misalnya, bila dari kecil sudah terbiasa makan makanan manis, maka anak akan cenderung menyukai makanan manis. Jika ini terjadi, maka kemungkinan obesitas pun semakin besar. Maka dari itu, sebaiknya ibu membiasakan untuk tidak menambahkan rasa pada makanan bayi. Bila ingin menambahkan garam pada masakan, sebaiknya tambahkan sedikit saja. Ibu juga tidak perlu memberi tambahan gula dan kurangi juga penggunaan kecap. Hal ini sebaiknya dibiasakan sejak anak berusia 6 bulan. Makanan yang sehat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus diperhatikan dalam hal kualitas maupun kuantitasnya. Perlu diingat bahwa kebiasaan makan sehat merupakan modal dasar untuk terbentuknya pola makan sehat pada anak hingga dewasa nanti.

Sumber gambar : rumahmadujogja.wordpress.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY