Penularan Dan Dampak MERS

SehatFresh.com – Beberapa waktu lalu, dunia pernah dihebohkan dengan ratusan orang meninggal dunia di kawasan Timur Tengah akibat penyakit MERS. Middle East Respiratory Syndrome (MERS) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus yang disebut dengan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Coronavirus adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). World Health Organization menyatakan bahwa sekitar 36% pasien dilaporkan meninggal dunia akibat MERS.

MERS pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012. Sejauh ini, semua kasus MERS dikaitkan dengan perjalanan ke atau tinggal di negara-negara di dan dekat Jazirah Arab. Wabah yang pernah di Republik Korea pada tahun 2015 adalah wabah terbesar di luar Timur Tengah. Wabah dikaitkan dengan wisatawan yang kembali dari Jazirah Arab.

Meskipun sebagian besar kasus MERS pada manusia dikaitkan dengan infeksi manusia ke manusia, tapi unta diduga kuat menjadi sumber utama MERS-CoV. Namun, mekanisme penularan dari unta ini belum dipahami sepenuhnya. Strain Mers-CoV yang identik dengan strain manusia telah diisolasi dari unta di beberapa negara, termasuk Mesir, Oman, Qatar, dan Arab Saudi.

Pada mekanisme penularan dari manusia ke manusia, virus tampaknya tidak menular dengan mudah dari orang ke orang kecuali ada kontak dekat, seperti memberikan perawatan tanpa perlindungan untuk pasien yang terinfeksi. Di fasilitas kesehatan, penularan dari manusia ke manusia tampaknya lebih mungkin, terutama ketika praktek pencegahan dan pengendalian infeksi tidak memadai.

Spektrum klinis infeksi Mers-CoV berkisar dari tidak ada gejala (asimptomatik) atau gejala pernapasan ringan hingga penyakit pernapasan akut parah dan kematian. Pneumonia bisa menyertai gejala lainnya, tetapi tidak selalu terjadi. Gejala gastrointestinal seperti diare juga mungkin terjadi. Penyakit dapat menyebabkan kegagalan pernapasan yang membutuhkan ventilasi mekanis dan dukungan di unit perawatan intensif. Mers-CoV tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih parah pada orang yang lebih tua, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, dan orang-orang dengan penyakit kronis seperti kanker, penyakit paru-paru kronis dan diabetes.

Saat ini, belum tersedia vaksin untuk pencegahan penyakit MERS. Penanganan gejala umumnya bersifat suportif berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien. Sebagai tindakan pencegahan umum, siapapun yang mengunjungi peternakan, pasar, kandang, atau tempat-tempat lain di mana unta dan hewan lainnya berada, harus menerapkan praktek kebersihan yang baik termasuk mencuci tangan secara teratur sebelum dan setelah menyentuh hewan, dan harus menghindari kontak dengan hewan yang sakit.

Konsumsi produk hewani mentah atau setengah matang seperti susu dan daging, bisa membawa risiko infeksi dari berbagai organisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Produk hewani yang diproses dengan memasak atau pasteurisasi secara tepat dikatakan aman dikonsumsi, tetapi penanganannya harus hati-hati guna menghindari kontaminasi silang dengan makanan mentah.

Pada Januari 2016, diberitakan 32 orang di Thailand telah dikarantina terkait MERS. Di Indonesia, MERS tentunya menjadi perhatian pemerintah mengingat setiap harinya banyak warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umroh. WHO menyatakan bahwa masyarakat tetap bisa melakukan perjalanan ke kawasan Jazirah Arab. Namun, jika mengalami demam dan gejala MERS lainnya dalam dua minggu setelah bepergian ke negara tersebut, segera periksakan ke dokter.

Sumber gambar : infonutrisi.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY