Penularan HIV Saat Hamil

SehatFresh.com – Kasus penyakit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquaired Immune Deficiency Syndrome) di dunia maupun di Indonesia semakin meningkat jumlahnya setiap tahun. Pada tahun 2002, UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) memperkirakan di seluruh dunia terdapat 42 juta orang yang hidup dengan HIV; 19,2 juta di antaranya perempuan dan 3,2 juta anak di bawah usia 15 tahun. Pada tahun yang sama, ada 800.000 kasus baru dan 610.000 kematian anak yang menderita HIV. Hampir 91% anak tersebut tertular HIV dari ibunya.

Penularan infeksi HIV dari ibu ke anak merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak usia di bawah 15 tahun. Diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular melalui penularan dari ibu ke anak. Jumlah kasus HIV/AIDS pada kehamilan disebabkan oleh meningkatnya kasus pada penggunaan narkoba suntikan yang pada umumnya digunakan pada usia subur (usia reproduksi).

Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau pasca kelahiran melalui ASI. Penularan HIV dari ibu hamil pada bayi bisa terjadi karena infeksi melewati plasenta, saat proses persalinan atau menyusui. Sumber infeksi ini bisa dari darah ibu, plasenta, cairan amnion dan ASI. Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan.

Saat menyusui, risiko tranmisi menjadi dua kali lipat. Risiko penularan HIV lewat ASI mencapai 5–20 persen. ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang menderita HIV adalah 1 per 104 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada komponen sel dan non sel ASI. Ada berbagai faktor yang memengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, luka di mulut bayi dan bayi prematur yang umumnya memiliki daya tahan tubuh lemah. Keadaan penyakit ibu juga menjadi faktor yang dipertimbangkan karena ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari yang tidak menyusui. WHO, UNICEF dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari ASI yang terkena HIV jika alternatif susu lainnya tersedia dan aman.

Oleh karena itu, para calon ibu dianjurkan untuk menjalani tes HIV pada masa awal kehamilannya. Ini merupakan salah satu cara pencegahan agar bayi tidak sampai tertular virus yang berasal dari ibunya. Begitu ibu tahu bahwa positif terinfeksi virus HIV, maka ia memiliki banyak waktu untuk mencari tahu bagaimana cara yang tepat melindungi dirinya dan calon anaknya.

Bila virus HIV telah diantisipasi dengan baik sejak dini, melahirkan dengan proses normal masih memungkinkan dan tidak meningkatkan risiko penularan HIV kepada bayi. Namun pada beberapa kasus lain, dokter mungkin merekomendasikan ibu hamil untuk melahirkan secara caesar untuk meminimalkan risikonya. Operasi caesar dilakukan jika sebelumnya ibu tidak menjalani terapi kombinasi dan jika kadar virus telah terdeteksi dalam darah.

Sumber gambar : www.hellodoctor.co.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY