Penyakit Fungsi Sistem Koordinasi pada Ibu Hamil

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sistem koordinasi memiliki fungsi yaitu melancarkan gerakan tubuh. Koordinasi gerakan tubuh melibatkan otot, sendi dan juga saraf. Ketika Anda ingin melakukan sesuatu, otak mulai memerintahkan otot atau anggota tubuh yang dituju dan kemudian fungsi sistem koordinasi berperan untuk menghaluskan gerakan tersebut.

Perlu Anda ketahui, setiap gerakan yang Anda lakukan, sebenarnya melibatkan sejumlah otot yang dikendalikan oleh otak kecil atau serebelum. Pada orang yang sehat, otak kecil mampu mengontrol dan mengatur gerakan tubuh dengan baik. Akan tetapi jika otak kecil mendapatkan gangguan, tentu Anda tidak bisa melakukan gerakan sebagai mana normalnya.

Penyakit pada fungsi sistem koordinasi meliputi:

  1. Dispraksia

Dispraksia adalah gangguan di mana pesan yang dikirim dari otak ke otot terganggu. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah dengan gerakan dan fungsi sistem koordinasi Anda. Biasanya, penyakit atau gangguan ini kerap terjadi sejak usia anak-anak. Akan tetapi, orang dewasa juga bisa terkena penyakit ini jika mengalami penyakit atau cedera.

Risiko dispraksia lebih tinggi terjadi pada bayi prematur, berat badan saat lahir rendah, serta pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang minum alkohol dan merokok selama kehamilan. Umumnya, anak-anak yang terkena penyakit ini akan mengalami kesulitan ketika menulis, mengikuti perintah atau pengaturan dan mengalami kesulitan saat berbicara dan mendengarkan. Tanda-tanda awal terkena dispraksia dapat terlihat pada bayi yang lambat ketika duduk, merangkak dan berjalan. Setelah umur bertambah, anak menjadi ceroboh, rawan mengalami kecelakaan, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar bersepeda.

  1. Ataksia

Ataksia adalah penyakit degeneratif yang memengaruhi otak, batang otak atau saraf tulang belakang. Penyakit ataksia disebabkan oleh adanya gangguan pada bagian otak kecil (serebelum) yang memburuk. Selain itu, ataksia juga dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada urat saraf belakang (spinal cord). Penyebab lain yang diduga menyebabkan ataksia adalah trauma otak dan saraf tulang belakang akibat benturan benda keras, pasokan darah ke otak yang tidak lancar sehingga otak kekurangan nutrisi dan mengakibatkan sel-sel otak mati fungsi serta keracunan dari bahan-bahan makanan atau minuman yang dikonsumsi misal alkohol. Tanda-tanda dari seseorang mengidap ataksia dapat dilihat seperti:

  • Kemampuan berbicara yang bermasalah
  • Susah menelan
  • Kehilangan keseimbangan dan koordinasi antara tangan lengan, kaki dan otot
  • Memiliki kemampuan yang kurang dalam berkoordinasi
  • Goyah ketika berjalan
  • Sering tersandung saat berjalan
  • Mengalami masalah pada motorik halus seperti kaku dalam menulis dan mengikat sepatu

Penyakit ataksia merupakan penyakit genetik yang sebetulnya tidak bisa dicegah dan dapat terjadi kapan saja. Namun, sebagai antisipasi sebaiknya ibu hamil mengonsumsi makanan yang tinggi asam folat untuk membantu perkembangan saraf-saraf otak janin agar terhindar dari masalah serius pada sistem kerja otak.

  1. Parkinson

Penyakit ini adalah penyakit yang menyerang otak bagian tengah atau dikenal dalam istilah medis sebagai degenerasi sel saraf. Gejala yang paling bisa terlihat pada penderita parkinson adalah tremor atau getaran. Gejala pada tahap awal meliputi tangan gemetar atau bergerak dengan sendirinya, dan sebagian tubuh terasa lemah dan kaku. Gejala pada tahap yang lebih berat yaitu tubuh bergerak menjadi lebih lambat, getaran akan lebih banyak di bagian tubuh yang lain, otot tubuh terasa kaku dan kelenturan tubuh atau fleksibilitas tubuh semaki turun dan eseimbangan dan koordinasi tubuh menjadi menurun. (KKM).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here