Penyakit Geographic Tongue atau Lidah Belang pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Lidah belang-belang masih tergolong normal, namun tetap perlu diwaspadai. Kondisi yang dalam istilah kedokteran disebut georaphic tongue (GT) itu, diketahui setidaknya terjadi pada 3 persen populasi umum di Indonesia mengalami kondisi lidah belang-belang.

Lidah belang-belang bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah tanda ada penyakit yang mendasarinya. Belang-belang pada lidah terjadi akibat reaksi peradangan ringan papila di permukaan lidah. Papila yang meradang tersebut akan mengalami pertumbuhan berlebih dan pembengkakan.

Hingga saat ini mekanisme pasti proses peradangan tersebut masih belum diketahui. Namun, belang-belang tidak sama dengan sariawan dan radang lidah lainnya. Gejala dan tandanya pun berbeda. Lidah belang-belang tidak terjadi secara cepat, melainkan hasil dari sebuah proses berulang yang cukup lama.

Oleh karena proses terjadinya yang cukup lama, maka lidah belang-belang atau geographic tongue ini jarang terjadi pada bayi ataupun balita dan lebih banyak ditemukan pada anak usia 2 tahun ke atas. Anda tidak perlu khawatir jika belang-belang terjadi pada lidah anak. Jika ternyata belang di lidah disertai keluhan nyeri, merah hingga bengkak pada anak, segera konsultasikan dengan dokter untuk mencari tahu penyakit yang mendasari lidah belang tersebut.

Gambaran pulau-pulau yang muncul pada permukaan lidah dapat hilang dan muncul sebagai papila halus, merah dan sering dengan batas sedikit terangkat. Gambaran pulau-pulau tersebut seringkali juga berpindah-pindah dan berubah-ubah. Dengan gambaran klinis pada lidah geografis yang menyerupai pulau-pulau tersebut, sehingga secara keseluruhan pada permukaan lidah mempunyai gambaran seperti peta. Kondisi tersebut sering sembuh dalam satu area dan kemudian pindah (migrasi) ke bagian lain pada permukaan lidah.

Penyebab lidah geografik tidak diketahui dan tidak ada cara untuk mencegah kondisi tersebut. Kondisi lidah geografik pada permukaan lidah kemungkinan merupakan hasil dari aktivitas jenis tertentu dari sel darah putih yang biasanya menginduksi peradangan pada area penyakit atau cedera.

Hal ini dikaitkan dengan kesalahan sistem kekebalan tubuh, namun belum diketahui dengan pasti. Kendati belum ada ilmuwan yang yakin penyebabnya, baru-baru ini fisikawan menemukan dua jenis GT yang menyerang sekitar dua persen dari populasi. Lidah geografis atau GT mengubah lapisan jaringan atas lidah yang disebut epitel yang berisi tunas pengecap.

Pada orang-orang yang mengalami GT, beberapa struktur yang mengandung tunas pengecap akan meradang. Kondisi ini tidak menular, tetapi bisa menjadi kronis. Belum diketahui penyebabnya, tetapi para ilmuwan percaya faktor genetika punya peran. Stres, alergi, didabetes dan ketidakseimbangan hormon juga ditengarai sebagai penyebabnya.

Namun, para ilmuwan sejauh ini belum dapat memberikan bukti meyakinkan bahwa semua hal tersebut dapat memicu kondisi GT. Kendati lidah dapat menyembuhkan dirinya sendiri, pola di lidah akan selalu kembali dan dapat menyebabkan rasa sakit ringan. (KKM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here