Penyakit Hati Akibat Peningkatan Enzim Pada Bayi

SehatFresh.com – Hati adalah organ dengan fungsi kompleks yang melakukan banyak fungsi penting. Terletak di bagian atas kanan perut, hati membantu mengeluarkan racun yang mengendap dalam tubuh. Organ ini juga menyimpan vitamin dan mineral, menghasilkan protein dan enzim serta memroduksi senyawa pembekuan. Ketika hati rusak, terjadi pelepasan enzim ke dalam aliran darah. Hal ini dapat dideteksi dengan serangkaian tes darah.

Peningkatan enzim hati pada bayi dapat menunjukkan masalah kesehatan yang serius. Enzim utama yang digunakan untuk memeriksa kerusakan hati adalah AST, atau aspartat transaminase, dan ALT, dan alanin transaminase. Menurut Lab Test Online, ALT berguna dalam deteksi dan diagnosis penyakit hati karena dilepaskan ke dalam aliran darah sebelum tanda-tanda yang lebih jelas dari penyakit hati muncul. ALT dapat membantu metabolisme protein dalam tubuh. Pada kondisi normal, kadar ALT di dalam darah adalah rendah. Tingginya kadar ALT mengindikasikan adanya kerusakan hati. Sedangkan enzim AST berperan dalam metabolisme alanine. AST ditemukan dalam kadar yang tinggi di sel-sel hati, jantung, dan otot-otot lainnya. Jika dalam darah AST tersebut ditemukan dengan kadar yang tinggi, hal tersebut juga mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati.

Peningkatan enzim hati menunjukkan kerusakan atau peradangan pada sel-sel di hati. Sedikit peningkatan enzim hati dapat mendahului gejala penyakit hati. Tingginya kadar enzim hati menunjukkan hepatitis. Penyebab paling umum dari peningkatan enzim hati pada bayi termasuk virus hepatitis (A, B, dan C), infeksi virus Epstein-Barr, yang menyebabkan mononucleosis; dan sitomegalovirus, mikroba yang dapat menyebabkan kelahiran prematur, kejang, sakit kuning, dan peningkatan enzim hati. Penyebab lain dari peningkatan enzim hati pada bayi termasuk atresia bilier dan penyakit hati autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh sendiri menyerang jaringan hati.

Gejala-gejala penyakit hati, yang sesuai dengan ketinggian enzim hati, termasuk penyakit kuning, atau semburat kekuningan pada kulit, pembesaran hati, yang pada bayi dapat menyebabkan distensi abdomen, mual, muntah, dan penurunan berat badan. Bayi dengan penyakit hati yang progresif dan peningkatan enzim hati kronis dapat menderita hipertensi portal, tekanan darah tinggi yang abnormal dari pembuluh darah yang memasok hati, yang dapat menyebabkan distensi abdomen dan perdarahan dari pembuluh darah di kerongkongan dan ensefalopati hati, serta memburuknya fungsi otak yang menyebabkan kebingungan, mengantuk, kehilangan kesadaran dan bahkan koma.

Selain orang dewasa, bayi juga bisa terserang penyakit hati yang secara umum gejalanya berupa kuning. Di antara banyaknya penyakit hati pada bayi, atresia bilier merupakan penyakit yang paling fatal. Penyakit hati yang sudah parah umumnya ditandai dengan bayi kuning dan feses pucat. Maka dari itu, para orang tua perlu waspada jika bayi masih kuning padahal usianya sudah dua minggu lebih.

Sumber gambar : nursing.unm.edu

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY