Penyakit Menular Seksual Faktor Hubungan Seksual

SehatFresh.com – Penyakit menular seksual (PMS) atau infeksi menular seksual (IMS), merujuk pada penyakit yang utamannya ditularkan melalui kontak seksual. Organisme yang menyebabkan PMS ditularkan dari orang ke orang lewat darah, air mani atau vagina, dan cairan tubuh lainnya. Anda bisa saja tertular PMS dari orang yang tampaknya sehat mengingat memang PMS tidak selalu menimbulkan gejala khas sehingga penyakit menular seksual lebih sering disebut infeksi menular seksual.

Beberapa jenis penyakit menular seksual diantaranyan HIV, gonore, klamidia, kutil kelamin, dan sifilis. Sebagai contoh, peningkatan kasus HIV di seluruh dunia utamanya disebabkan oleh peningkatan perilaku seks berisiko. Perilaku seks berisiko didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang meningkatkan risiko penularan seksual dan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

Terkait peningkatan risiko PMS, perilaku seksual berisiko ini meliputi:

  • Seks tanpa pelindung

Melakukan penetrasi vagina atau anus tanpa memakai kondom secara signifikan meningkatkan risiko tertular PMS. Pemakaian kondom yang tidak benar atau tidak konsisten juga sama berisikonya. Seks oral mungkin kurang berisiko. Akan tetapi, risikonya tetap tinggi bila aktivitas seks oral dilakukan tanpa kondom atau pelindung gigi yang disebut dental dam. Penggunaan kondom sangatlah penting. Ini karena permukaan mulut, vagina, penis, dan anus sangatlah halus sehingga rentan mengalami perlukaan.

  • Sering berganti pasangan

Semakin banyak pasangan seks Anda, semakin tinggi risiko Anda tertular PMS. Tidak ada yang bisa menjamin kalau setiap pasangan seks Anda benar-benar bersih dari penyakit. Seks usia dini juga meningkatkan risiko tertular penyakit menular seksual. Semakin dini usia anak ketika melakukan seks pertama kali, ini berarti masa keaktifan seks pun menjadi lebih panjang, sehingga besar kemungkinannya untuk bergonta-ganti pasangan.

  • Seks di bawah pengaruh alkohol atau obat

Bukan hanya tidak diperbolehkan mengemudi, melakukan hubungan seksual juga tidak diperbolehkan jika sedang berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang. Mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol atau obat lebih rentan melakukan perilaku berisiko termasuk dalam hal seks. Efek euphoria dari alkohol atau obat dapat menurunkan kemampuan otak dalam mengambil keputusan. Orang yang berhubungan seks usai minum cenderung melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom.

Meskipun gejalanya tidak selalu tampak, beberapa hal di bawah ini dapat menjadi indikasi PMS pada pria maupun wanita.

  • Keluarnya cairan tidak normal dari alat kelamin. Pada wanita, ini biasanya berupa keputihan yang berwarna kehijauan, keabuan, dan berbusa.
  • Nyeri saat buang air kecil, seperti sensasi panas, sakit, perih, dan anyang-anyangan.
  • Munculnya benjolan atau bintik-bintik terutama di area-area yang terkait dengan aktivitas hubungan seksual. Misalnya, bintik-bintik berair seperti cacar air di daerah kemaluan atau mulut.

Jika Anda mendapati gejala di atas, yang harus dilakukan adalah:

  • Segera berkonsultasi pada dokter agar mendapatkan penanganan medis yang tepat. Jangan diobati sendiri dengan menggunakan sembarang obat karena penyakit bisa semakin parah dan penanganannya pun akan lebih rumit.
  • Ketika berkonsultasi dengan dokter, Anda harus jujur dan terbuka mengenai riwayat kehidupan seksual Anda. Ini akan sangat membantu dokter dalam menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif, maka jangan menyembunyikannya pada pasangan. Pasangan seksual Anda juga memerlukan pengobatan agar penyakitnya tidak dibiarkan semakin parah dan mencegah terjadinya infeksi berulang. Anda dan pasangan juga harus saling mengerti mengingat Anda berdua tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual selama pengobatan.

Sumber gambar : www.SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY