Penyakit Tuberculosis Pada Anak

Penyakit tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. TB adalah penyakit serius yang mudah menular secara langsung melalui udara. Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah sangat rentan tertular TB dari orang dewasa yang positif TB.

Imunisasi BCG (antituberkulosis) tidak menjamin sepenuhnya anak bebas dari penyakit TB. Kuman penyebab TB bisa ditularkan melalui percikan dahak. Jika anak terkena kuman terus-menerus dari orang dewasa di dekatnya, terutama orangtua, maka anak memiliki kemungkinan besar mengembangkan TB.

Tuberkulosis pada anak maupun orang dewasa disebabkan oleh bakteri yang sama. Namun, karena gejala dan mekanisme TB pada keduanya berbeda, maka perlu penanganan khusus untuk TB pada anak. TB pada anak umumnya tidak berbahaya, namun dapat memengaruhi pertumbuhan mereka. Pada kasus yang jarang, balita dapat mengembangkan infeksi TB yang menyebar ke seluruh tubuh sehingga membahayakan jiwa. Anak yang lebih besar (usia 13-14 tahun ke atas) bisa mengembangkan infeksi TB dewasa yang merusak paru dan menular ke orang lain.

Berbeda dengan TB pada dewasa, TB pada anak tidak menular. Bakteri TB pada anak berkembang di dalam kelenjar paru atau tidak terbuka. Pada orang dewasa, bakteri berkembang di dalam paru-paru. Bakteri lalu membuat lubang untuk keluar melalui saluran pernapasan sehingga berpotensi menyebar ke orang lain, termasuk anak-anak.

Apa yang mengindikasikan bahwa anak terkena TB?

Gejala TB pada anak lebih sulit didiagnosis karena anak cenderung tidak menunjukkan gejala khas TB. Anak dengan TB umumnya tidak mengalami gejala batuk berdahak seperti yang diderita pada orang dewasa. Gejala paling umum yang pasti muncul adalah demam. Timbulnya demam merupakan pertanda masa inkubasi dari basil penyebab TB. Demam yang timbul umumnya tidak terlalu tinggi sehingga terkadang dikira hanya demam influenza biasa. Gejala lain yang mungkin timbul adalah berkurangnya nafsu makan anak. Bahkan pada beberapa kasus anak tidak mau makan sama sekali. Anak juga mengalami penurunan berat badan secara drastis. Gangguan pada gizi terjadi hampir di semua kasus TBC anak. Hal tersebut erat kaitannya dengan rendahnya selera makan anak.

Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis, baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak, batuk bukan merupakan gejala utama sehingga diagnosis TB pada anak tidak bisa dilakukan dengan uji dahak (sputum test). Selain itu, foto rontgen pada anak juga tidak bisa memberikan diagnosa yang tepat. Maka diperlukan uji Tuberkulin atau uji Mantoux.

Ketika seorang anak sudah menderita penyakit TB aktif, maka seluruh anggota keluarga dan orang dewasa lain yang melakukan kontak dekat dengan anak harus diperiksa untuk mencari sumber penularan dan segera diobati, agar rantai penularan dapat dihentikan.

Pengobatan TB pada anak tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, yaitu menjalani pengobatan selama enam bulan secara konsisten. Namun, tuberkulosis pada anak tidak cukup hanya ditangani dengan pengobatan, tetapi perbaikan lingkungan serta peningkatan gizi sangat penting untuk memperkuat daya tahan tubuh anak.

 *pic polahidupuntuk.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here