Penyebab dan Faktor Risiko Lepasnya Plasenta Sebelum Proses Persalinan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Idealnya, plasenta akan lepas dari rahim pada saat bayi sudah dilahirkan. Namun, dalam sejumlah kasus ditemui plasenta terlepas saat janin masih di dalam kandungan. Inilah yang disebut solusio plasenta. Kondisi ini membahayakan keselamatan janin dan ibu yang mengandungnya.

Plasenta itu sendiri merupakan organ yang terbentuk dari jaringan pembuluh darah yang menghubungkan antara janin yang sedang berkembang dan dinding rahim. Plasenta berperan penting, yakni sebagai pemberi nutrisi serta oksigen pada janin yang sedang dikandung, pertahanan melawan infeksi, dan memproduksi hormon yang dapat menyokong kehamilan.

Dr. Irfan Mulyana Mustofa SpOG dari RSUD Leuwiliang Bogor mengatakan, solusio plasenta masuk dalam kategori kegawatan obstetri. Ia menjelaskan, plasenta bak cakram. Jika lepas di bagian tengahnya, darah tidak bisa keluar karena bagian pinggir plasenta masih menempel.

“Sehingga kalau dilihat seperti ubur-ubur yang terbalik. Ini yang menyebabkan pendarahan tersembunyi di mana darah tidak bisa keluar dan pastinya berbahaya. Biasanya, solusio plasenta terjadi di atas usia kehamilan 20 minggu karena jika di bawah usia kehamilan 20 minggu termasuk dalam keguguran atau abortus,” jelas dr. Irfan.

Lantas, apa penyebab solusio plasenta? Penyebab utama solusio plasenta belum diketahui dengan pasti. Meski begitu, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya solusio plasenta. Beberapa faktor risiko tersebut antara lain:

  • Hipertensi

Sekitar 44% dari semua kasus solusio terjadi pada ibu yang hipertensi.

  • Cedera

Terutama cedera pada perut akibat kecelakaan, terjatuh, atau lainnya dapat meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta.

  • Merokok

Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko mengalami solusio plasenta sebesar 40%.

  • Penyalahgunaan narkoba

Sebanyak 13%–35% kasus solusio plasenta dilaporkan akibat penyalahgunaan narkoba.

  • Konsumsi alkohol
  • Tali pusar pendek
  • Kehamilan kembar

Jika sang ibu hamil kembar, maka setelah melahirkan bayi pertama karena rongga rahim mengecil dapat mendorong terlepasnya plasenta sebelum bayi kedua lahir.

  • Gangguan pembekuan darah

Semua kondisi yang mengganggu kemampuan pembekuan darah dapat meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta.

  • Perdarahan retroplasenta akibat tusukan jarum.
  • Riwayat

Jika si ibu pernah mengalami solusio plasenta sebelumnya, maka ia mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami solusio plasenta lagi.

  • Ketuban pecah dini

Selama kehamilan, janin berada di dalam cairan ketuban dan diselubungi oleh selaput yang disebut sebagai selaput ketuban. Risiko solusio plasenta akan meningkat jika selaput ketuban tersebut pecah dan telah berlangsung lama (24 jam atau lebih lama).

  • Usia sang ibu

Solusio plasenta lebih sering terjadi pada usia ibu yang melewati usia matang, terutama berusia di atas 40 tahun. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here