Penyebab dan Komplikasi Pecahnya Pembuluh Darah Aorta

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Diseksi aorta adalah pecahnya pembuluh darah aorta. Pada tahap awal diseksi aorta, lapisan dalam aorta mengembangkan robekan yang memungkinkan darah untuk keluar dan berkumpul di dinding luar aorta. Jika tidak ditangani dengan cepat, dinding luar dapat pecah, mengakibatkan kehilangan darah yang cepat. Kurangnya intervensi medis segera juga dapat menyebabkan robekan menyebar dan menutupi arteri koroner yang menyebabkan infark miokard.

Para lansia memiliki risiko lebih besar untuk diseksi aorta, terutama jika mereka memiliki riwayat hipertensi, tetapi kaum muda juga dapat terserang kondisi ini jika memiliki cacat bawaan tertentu. Salah satu cacat bawaan tersebut adalah sindrom Marfan, yang menyebabkan kelemahan dinding aorta yang memudahkan diseksi aorta.

Kaum pria paling banyak terserang penyakit ini dengan rentang usia 40-70 tahun. Selain pria di atas usia 40, penderita diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan perokok juga rentan terhadap penyakit diseksi aorta ini. Penyakit ini juga bisa muncul karena faktor genetik. Risiko tertinggi yang dapat terkena penyakit ini adalah para perokok. Rokok perlahan mengakibatkan luka pada pembuluh darah, yang memisahkan bagian dalam dan dinding aorta. Penyebab dari timbulnya penyakit ini, antara lain:

  • Kerusakan dinding arteri. Ini terjadi pada sebagian besar diseksi aorta. Keadaan yang paling sering menyebabkan kerusakan pada dinding arteri ini adalah tekanan darah tinggi, yang ditemukan pada lebih dari 65% penderita.
  • Penyakit jaringan ikat turunan (sindroma Marfan dan sindroma Ehlers-Danlos)
  • Kelainan bawaan pada jantung dan pembuluh darah (koartasio aorta, patent ductus arteriosus dan kelainan pada katup aorta)
  • Arteriolosklerosis
  • Menderita Hipertensi
  • Trauma atau luka tusuk di dekat jantung

Penyakit ini bisa dicegah dengan melakukan pola makan seimbang dan rajin olahraga menjadi kunci utama. Rutin melakukan medical check-up, terutama ct-scan yang dapat mencegah lebih parahnya penyakit ini.

Orang yang menderita diseksi aorta perlu segera mendapatkan tindakan medis. Bila penyakit ini dibiarkan, luka pada pembuluh darah bisa semakin membesar dan bisa berakibat pecahnya pembuluh darah. Risiko paling fatal adalah terjadinya pendarahan yang bisa menyebabkan kematian.

Pecahnya pembuluh darah aorta dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang terjadi dapat menyebabkan:

  • Kematian karena perdarahan parah.
  • Kerusakan organ, seperti kerusakan usus yang mengancam jiwa.
  • Stroke.
  • Kerusakan katup aorta (regurgitasi aorta) pecah hingga ke lapisan di sekitar jantung (cardiac tamponade).

Melihat banyaknya komplikasi yang dapat ditimbulkan dari pecahnya pembuluh darah aorta, maka diperlukan juga diagnosa yang tepat. Kesalahan diagnosa yang paling mungkin terjadi dan berisiko tinggi adalah penderita diseksi aorta didiagnosa mengalami serangan jantung. Jika didiagnosa sebagai serangan jantung, penderita akan diberikan obat pengencer darah. Ini akan membuat luka pada pembuluh darah semakin besar, salah mendiagnosa dapat fatal akibatnya.

Pasien diseksi aorta juga memerlukan pengobatan yang tepat. Pengobatan biasanya dilakukan pada bagian pembuluh dengan tekanan tinggi, yaitu di tempat keluarnya darah. Pengobatan penyakit ini juga bergantung pada lokasi robeknya pembuluh darah. Bila lokasi robek ada di atas jantung (asendans), maka pasien harus mendapatkan tindakan medis dalam 1×24 jam. Lokasi asendans adalah segmen pertama dari aorta yang berasal dari jantung. Bila lokasi robeknya pembuluh darah terletak di desendans, maka pasien cukup minum obat. Desendans merupakan bagian dari aorta yang bergerak ke bawah, melalui dada dan perut. Obat yang diberikan bisa berupa gliseril trinitrat dan pemblokir beta.

Kendati begitu, hal ini tidak berlaku mutlak. Jika lokasi robek ada di desendans, namun pasien mengalami sakit dada terus menerus dengan tekanan darah tidak terkontrol, maka perlu segera dilakukan tindakan medis.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY