Penyebab Hipogonadisme

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Hipogonadisme adalah suatu kondisi ketika hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual berada di bawah jumlah normal. Hormon seksual memiliki fungsi untuk mengatur karakteristik seksual sekunder, di antaranya membantu produksi sperma dan perkembangan testis pada pria. Sedangkan pada wanita, hormon ini berperan dalam pertumbuhan payudara dan siklus menstruasi. Selain itu hormon seksual juga berperan dalam pertumbuhan rambut kemaluan, baik pada pria maupun wanita. Hipogonadisme atau kurangnya produksi hormon seksual ini tentu saja akan menyebabkan masalah.

Hipogonadisme pria adalah kondisi di mana testis tidak menghasilkan cukup testosteron (hormon pria). Berdasarkan penyebabnya, hipogonadisme terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipogonadisme primer dan sekunder.

Hipogonadisme primer terjadi akibat gonad atau kelenjar seksual mengalami kerusakan. Meski otak mengirimkan sinyal pada gonad untuk memproduksi hormon seksual, produksi tetap tidak bisa dilakukan akibat kerusakan ini. Berikut ini sejumlah penyebab kerusakan pada gonad, di antaranya:

  • Penyakit genetis. Penyakit ini contohnya adalah sindrom Klinefelter. Sindrom Klinefelter merupakan hasil dari kelainan bawaan pada kromosom seks, X dan Y. Seorang laki-laki biasanya memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y.
  • Kriptorkismus atau testis tidak turun. Sebelum lahir, testis telah berkembang dan biasanya turun secara normal ke tempat permanennya, yaitu skrotum. Kadang-kadang, satu atau kedua testis tidak dapat turun ke tempat seharusnya.
  • Mumps (gondok) orchitis. Jika infeksi gondok yang juga melibatkan testis selain kelenjar ludah (gondok orchitis) terjadi selama masa remaja atau dewasa, kerusakan testis jangka panjang dapat terjadi. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi testis normal dan produksi testosteron.
  • Hemochromatosis. Terlalu banyak zat besi dalam darah dapat menyebabkan kegagalan testis atau disfungsi kelenjar pituari yang akan mempengaruhi produksi testosteron.
  • Penyakit autoimun. Contohnya adalah penyakit hipoparatiroidisme dan penyakit Addison.
  • Kerusakan organ seksual. Kerusakan ini bisa diakibatkan kecelakaan atau efek samping operasi.
  • Efek samping radiasi atau kemoterapi pada pengobatan kanker.
  • Gangguan ginjal.
  • Gangguan hati.
  • Infeksi berat.

Jenis hipogonadisme yang kedua adalah hipogonadisme sekunder yang merupakan kebalikan dari primer. Pada hipogonadisme sekunder, kerusakan terletak pada kelenjar hipofisis di dalam otak. Akibat kerusakan ini, otak tidak mampu mengirim sinyal pada gonad untuk memproduksi hormon seksual. Berikut ini sejumlah faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada kelenjar hipofisis, di antaranya:

  • Sindrom Kallmann. Perkembangan hipotalamus yang abnormal yakni daerah pada otak yang mengontrol sekresi hormon hipofisis dapat menyebabkan hipogonadisme. Kelainan ini juga terkait dengan perkembangan gangguan kemampuan penciuman (anosmia) dan buta warna merah-hijau.
  • Gangguan hipofisis . Kelainan pada kelenjar hipofisis dapat mengganggu pelepasan hormon dari kelenjar pituari ke testis, serta mempengaruhi produksi testosteron normal. Tumor hipofisis atau tumor otak lain yang terletak id dekat kelenjar hipofisis dapat menyebabkan berkurangnya hormon testosteron. Pengobatan untuk tumor otak, seperti operasi atau terapi radiasi, juga dapat menyebabkan hipogonadisme.
  • Inflamasi (radang). Penyakit radang tertentu, seperti sarkoidosis, histiocytosis dan TBC, melibatkan hipotalamus dan kelenjar hipofisis serta mempengaruhi produksi testosteron. Keseluruhan penyakit ini dapat menyebabkan hipogonadisme.
  • HIV/AIDS. HIV/AIDS dapat menyebabkan hipogonadisme karena berpengaruh terhadap hipotalamus, hipofisis, dan testis.
  • Obat-obatan. Penggunaan obat tertentu seperti obat sakit opiate dan obat yang berkaitan dengan hormonal, dapat mempengaruhi produksi testosteron.
  • Obesitas. Kelebihan berat badan pada pria usia berapapun dapat dihubungkan dengan timbulnya hipogonadisme.
  • Penuaan. Laki-laki yang lebih tua umumnya memiliki kadar testosteron lebih rendah daripada laki-laki yang lebih muda. Bertambahnya usia membuat terjadinya penurunan yang lambat serta terus-menerus pada produksi testosteron. Tingkat penurunan testosteron sangat bervariasi diantara manusia. Menurut American Association of Clinincal Endocrinologis, sebanyak 30% pria yang lebih dari usia 75, memiliki tingkat testosteron di bawah normal.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY