Penyebab Penurunan Hormon pada Pria (Andropause)

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Setiap wanita akan mengalami menopause, di mana terjadi perubahan hormon yang menghentikan menstruasi dan disertai berbagai perubahan fisik, mental, dan emosional. Ternyata, para pria juga bisa mengalami menopause. Bentuk menopause pada pria ini disebut dengan istilah andropause.

Sama halnya dengan menopause, terjadinya andropause disebabkan oleh penurunan hormon seiring dengan bertambahnya usia. Penurunan hormon yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah testosteron (hormon seks utama pria). Pengaruh testosteron ini sangatlah besar, karena berperan penting dalam fungsi seksual, produksi sperma, pembentukan otot, serta intonasi suara.

Kadar testosteron pada setiap pria tidak selalu sama. Namun, pria yang lebih tua cenderung memiliki kadar testosteron yang lebih rendah daripada pria muda. Hal ini karena kadarnya akan menurun sekitar 1 persen per tahun setelah seorang pria berusia 30 tahun. Banyak faktor pula yang dapat mempercepat dan memperparah penurunan testosteron, seperti stres psikologis, penggunaan alkohol, trauma, operasi, obat-obatan, obesitas, dan infeksi.

Tanda-tanda yang menunjukkan gejala rendahnya testosteron, antara lain:

  • Masalah fungsi seksual, seperti disfungsi ereksi, menurunnya frekuensi ereksi di pagi hari, kurangnya gairah seksual, infertilitas, dan testis pun mengecil.
  • Perubahan fisik, seperti peningkatan lemak tubuh, berkurangnya massa otot dan tulang, pembesaran payudara (ginekomastia), dan bulu tubuh yang semakin jarang. Bahkan, Anda juga mungkin mengalami hot flashes dan mudah lelah.
  • Perubahan emosional, seperti menurunnya motivasi dan rasa percaya diri. Anda menjadi lebih sensitif sehingga gampang sedih dan tertekan, serta sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu.
  • Gangguan tidur, seperti insomnia atau sebaliknya rasa kantuk yang berlebihan.

Terdapat perbedaan antara menopause dan andropause meski keduanya disebabkan penurunan hormon seks seiring usia. Dampak dari penurunan kadar testosteron yang secara alami menyertai penuaan pada pria tidak selalu jelas. Kesuburan wanita terhenti ketika ia menopause. Tapi, tidak selalu demikian dengan pria. Pada kenyataannya, pria masih bisa membuahi sel telur meski usianya sudah melebihi 60 tahun. Kesuburan pria tidak akan menurun secepat yang dialami wanita, meskipun tiap tahunnya kadar hormon pria juga terus menurun.

Dengan kata lain, terdapat beberapa faktor lain yang turut berkontribusi terhadap perkembangan menopause pada pria. Kurang olahraga, merokok, konsumsi alkohol, stres, kecemasan, dan gangguan tidur adalah beberapa diantaranya yang membuat kadar hormon dalam tubuh semakin kacau. Sejumlah kondisi medis juga diyakini dapat mempercepat menopause pria, antara lain penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Di usia paruh baya, para pria ataupun wanita akan berada pada masa “midlife crisis”, yaitu masa di mana seseorang memikirkan ulang tujuan kehidupan yang sebenarnya. Masa ini dapat menjadi masa yang penuh stres yang pada akhirnya berujung depresi, dan menyebabkan gejala yang berhubungan dengan menopause pada pria.

Diperlukan pemeriksaan fisik dan tes diagnostik oleh ahli medis untuk memastikan menopause. Umumnya berupa serangkaian tes darah yang di dalamnya terdapat tes pengukuran testosteron. Jika kadar testosteron rendah, terapi penggantian testosteron dapat membantu meringankan gejala-gejala, seperti libido rendah, depresi, dan kelelahan. Namun, terapi hormonal hingga saat ini masih jadi perdebatan. Pasalnya, ada kekhawatiran bahwa terapi penggantian testosteron dapat meningkatkan risiko serangan jantung, kanker prostat atau masalah kesehatan lainnya. Jika Anda hendak melakukan terapi pergantian testosteron, pastikan Anda sudah menimbang manfaat dan risikonya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY