Penyebab Sariawan pada Anak saat Puasa

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Masalah rongga mulut seringkali menimbulkan ketidaknyamanan pada anak saat puasa. Selain bau mulut, orang yang berpuasa juga rentan mengalami sariawan. Sariawan ditandai dengan radang pada mukosa (pipi bagian dalam) mulut yang biasanya berupa bercak kekuningan. Bercak tersebut dapat timbul secara tunggal atau berkelompok. Meskipun tergolong tidak berbahaya, sariawan akan terasa sangat mengganggu.

Dari perspektif medis, puasa memberikan pengaruh yang baik untuk tubuh, pikiran, dan spiritual anak. Namun, jika asupan makanan dan minuman anak tidak dijaga dengan baik, maka berbagai gangguan kesehatan rentan muncul dan mengganggu kenyamanan berpuasa. Selama ini, penyebab sariawan identik dengan kekurangan vitamin C. Tapi, ternyata tidak selalu demikian. Penyebab pasti dari sariawan masih belum jelas. Namun, para ahli meyakini bahwa kombinasi berbagai faktor berkontribusi terhadap munculnya sariawan.

Adapun penyebab sariawan pada anak meliputi:

  • Cedera ringan pada rongga mulut akibat menyikat gigi terlalu kuat, kecelakaan olahraga atau gigitan serangga di pipi.
  • Menggunakan pasta gigi atau obat kumur yang mengandung sodium lauryl sulfate (SLS). SLS membuka celah antara sel kulit dalam mulut sehingga zat beracun lebih mudah masuk. Akibatnya, rongga mulut rentan meradang.
  • Sensitif terhadap makanan, terutama cokelat, kopi, stroberi, telur, kacang-kacangan, keju, dan makanan pedas atau makanan asam.
  • Respon alergi terhadap bakteri tertentu dalam mulut.
  • Pola makan rendah vitamin B-12, zinc, vitamin C, folat (asam folat) atau zat besi. Karena waktu untuk makan dan minum dibatasi, serta mungkin asupan nutrisi juga kurang terjaga, kondisi ini membuat daya tahan tubuh menurun. Akibatnya, bakteri lebih mudah menyerang.
  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang sama yang menyebabkan tukak lambung. Karena produksi air liur berkurang, bakteri dalam mulut menjadi lebih cepat berkembang biak karena tidak adanya makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut. Saat perut kosong, asam lambung menjadi naik dan kondisi mulut pun menjadi lebih asam.
  • Stres emosional. Mulut juga terkena dampak stres. Saat stres muncul, kadar hormon kortisol meningkat dan sistem kekebalan tubuh pun terganggu. Ini membuat kondisi mulut rentan meradang karena bakteri atau virus lebih mudah menyerang.

Pada saat puasa, kimia tubuh akan mengalami perubahan. Epitel pada rongga mulut saat berpuasa tidak beregenerasi dengan cepat. Akibatnya, rongga mulut rentan terluka saat terkena sikat gigi atau tergigit. Dalam kondisi normal, terdapat sekitar 200 macam mikroba yang hidup dalam mulut. Ketika seseorang berpuasa dan kebersihan mulutnya kurang terjaga, maka peradangan lebih mudah terjadi. Peradangan pun tidak hanya menimbulkan sariawan, tetapi juga pada tenggorokan. Terlebih lagi, kondisi mulut yang kering saat puasa semakin menambah ketiknyaman di mulut.

Umumnya, sariawan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-14 hari. Kunci untuk mempercepat penyembuhan adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan meningkatkan konsumsi buah dan sayur dan makan secara perlahan agar jaringan mulut tidak tergigit. Selain itu, penting juga untuk menyikat gigi secara teratur dua kali sehari setelah makan sahur dan sebelum tidur serta membersihkan lidah dan memaksimalkan pembersihan dengan benang gigi. Gunakan sikat lembut untuk membantu mencegah iritasi pada jaringan halus mulut serta hindari pasta gigi atau obat kumur yang mengandung sodium lauryl sulfate.

Sariawan memerlukan penanganan medis bila:

  • Luka sariawan tampak tidak biasa dan besar
  • Sering sariawan, atau muncul luka baru sebelum luka lama sembuh
  • Sariawan tak kunjung mereda dalam waktu dua minggu
  • Sariawan meluas hingga bibir
  • Sulit makan atau minum
  • Sariawan disertai demam

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY