Penyebab Skizofrenia pada Pria

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Skizofrenia adalah gangguan serius yang memengaruhi fungsi normal otak yang berkaitan dengan keseimbangan emosi dan pemikiran seseorang. Seseorang dengan skizofrenia mungkin kesulitan membedakan antara apa yang nyata dan apa yang tidak, dan mungkin mengalami kesulitan mengekspresikan emosi yang normal dalam situasi sosial. Gangguan ini dapat dialami wanita ataupun pria. Namun, pria dianggap lebih berisiko terhadap skizofrenia ketimbang wanita.

Skizofrenia meliputi berbagai masalah dengan berpikir (kognitif), perilaku atau emosi. Tanda dan gejalanya dapat bervariasi. Secara umum, indikasinya meliputi delusi, halusinasi, menarik diri dari lingkungan sosial, dan kurang ekspresif secara emosional atau apatis. Pada pria, gejala skizofrenia biasanya mulai berkembang pada awal hingga pertengahan 20-an. Sedangkan pada wanita, gejala biasanya dimulai pada akhir 20-an.

Perkembangan gejala yang lebih lambat pada wanita terkait dengan faktor hormonal wanita yang bersifat protektif terhadap skizofrenia, yaitu estrogen. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa estrogen memiliki efek antipsikotik. Dengan demikian, tingkat estrogen yang lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria dapat menunda timbulnya gejala dan mengurangi keparahan skizofrenia. Belum diketahui secara pasti apa penyebab skizofrenia. Sejauh ini, para peneliti percaya bahwa kombinasi genetik dan lingkungan berkontribusi terhadap perkembangan gangguan ini.

  • Genetik
    Kebanyakan ahli meyakini bahwa perkembangan skizofrenia dipengaruhi faktor genetik. Diduga ada kombinasi gen yang berbeda. Namun, belum teridentifikasi secara pasti gen apa yang bertanggung jawab atas kondisi ini. Meski memiliki riwayat keluarga skizofrenia, tidak semua orang akan menderita skizofrenia.
  • Stres
    Secara psikologis, stres diyakini sebagai pemicu utama skizofrenia. Orang dengan skizofrenia seringkali menjadi cemas, mudah marah dan tidak mampu berkonsentrasi sebelum muncul gejala akut yang jelas. Stres dapat berakar dari masalah pekerjaan atau hubungan yang buruk dengan pasangan. Bahkan, banyak orang yang menderita stres esktrim sejak kecil hingga dewasa. Salah satunya karena faktor pola asuh. Stres yang terakumulasi untuk waktu lama tersebut dapat menjadi penyebab gangguan psikotik, seperti skizofrenia.
  • Penyalahgunaan obat
    Narkoba memang tidak secara langsung menyebabkan skizofrenia. Remaja atau dewasa muda yang menggunakan narkoba (ganja, kokain dan amfetamin) selama bertahun-tahun menjadi lebih rentan terkena skizofrenia. Jika telah memiliki skizofrenia, menggunakan narkoba bisa membuat gejala semakin buruk. Selain itu, minum alkohol dan merokok juga dapat mengurangi efektifitas obat yang digunakan untuk mengobati gejala skizofrenia.
  • Kelebihan dopamin
    Zat biokimia otak tertentu diyakini terkait dengan skizofrenia, terutama neurotransmitter yang disebut dopamin. Biokimia ini berperan dalam mengontrol gerakan fisik, memori, kewaspadaan, perhatian, emosi serta persepsi rasa sakit dan kesenangan. Menurut beberapa penelitian, terlalu banyak dopamin berhubungan dengan perkembangan skizofrenia. Namun, belum jelas bagaimana atau apakah semua orang yang didiagnosis dengan skizofrenia memiliki terlalu banyak dopamin. Salah satu penyebab dari kelebihan dopamin itu sendiri adalah penggunaan obat. Salah satunya, Levodopa yang digunakan untuk meredakan gejala penyakit Parkinson.

Jika dibiarkan, skizofrenia dapat membuat penderitanya menjadi agresif, phobia, depresi, atau bahkan bunuh diri. Karena tidak diketahui penyebab pastinya, tidak ada cara spesifik yang dapat mencegah datangnya skizofrenia. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan fisik dan mental sebaik-baiknya. Selain itu, lebih banyak belajar tentang faktor risiko dan gejala skizofrenia dapat membantu diagnosis dan pengobatan skizofrenia lebih dini. Penderita skizofrenia mungkin memerlukan perawatan seumur hidup. Tujuan pengobatan skizofrenia adalah untuk mengurangi gejala, mencegah kekambuhan, serta meningkatkan kualitas hidup.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY