Penyebab Usia Dewasa Masih Ngompol

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Anda pasti tidak asing lagi dengan istilah ngompol atau dalam istilah medis disebut dengan nocturnal enuresis. Istilah ini sering kali dikenal terjadi pada balita atau anak-anak, namun tahukah Anda jika ngompol juga dapt terjadi sampai usia dewasa. Bagaimana ngompol bisa terjadi pada orang dewasa?

Ngompol adalah keluarnya urine atau kencing yang tidak disadari ketika sedang tidur. Ngompol juga bisa terjadi saat sadar karena tidak bisa mengendalikan hasrat pipis, misal saat ketakutan. Ngompol bisa terjadi pada semua usia, mulai dari bayi sampai usia lanjut.

Nocturnal enuresis atau ngompol ini dibagi menjadi dua, yaitu ngompol primer dan sekunder. Ngompol primer terjadi pada bayi dan balita. Kebiasaan ngompol primer ini bisa hilang dengan sendiri ketika anak berusia 6 – 7 tahun. Biasanya anak perempuan berhenti lebih cepat dari pada anak laki-laki. Ngompol sekunder adalah ngompol yang terjadi pada orang dewasa, usia remaja sampai usia tua. Tidak seperti ngompol primer yang merupkan alami terjadi pada anak-anak, ngompol sekunder merupakan gangguan medis. Ada yang menyebutkan bahwa ngompol sekunder ini sebagai inkontinensia urine. Inkontinensia urine sendiri yaitu ketidakmampuan menahan keluarnya air kencing baik dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidak sadar yang disebut ngompol.

Apakah yang menyebabkan seseorang masih ngompol hingga dewasa? Sekitar 75% penyebab ngompol di usia dewasa dikarenakan faktor keturunan. Penyebab lainnya bisa Anda ketahui melalui penjelasan dibawah ini. Terdapat beberapa penyebab orang dewasa mengalami ngompol atau disebut juga dengan inkontinesia, antara lain:

  • Kehamilan

Mengompol saat kehamilan dikaitkan dengan kondisi stres saat hamil. Biasanya kondisi ini disebabkan pembesaran rahim yang mendesak struktur kandung kemih. Perubahan hormonal juga bisa meningkatkan pengeluaran urine. Mengompol saat hamil bisa dicegah dengan latihan kegel.

  • Persalinan

Persalinan terutama melalui proses normal merupakan penyebab umum terjadinya inkontinensia stres. Keadaan ini terkait dengan lemahnya jaringan penunjang pelvis. Hal ini juga dapat mengakibatkan turunnya kandungan dan jaringan vagina.

Latihan khusus pengencangan daerah panggul dan melatih kandung kemih dapat mencegah kondisi ini. Operasi ringan juga bisa mengencangkan jaringan dasar pelvis yang sudah melemah.

  • Penuaan

Seiring bertambahnya usia, maka risiko mengompol lebih besar baik pada pria maupun wanita. Hal ini disebabkan oleh melemahnya kekuatan otot pada uretra. Beberapa penyakit kerusakan otak, seperti stroke dan demensia, juga akan menyebabkan terganggunya sinyal ke bagian kandung kemih.

  • Pembesaran prostat

Pembesaran kelenjar prostat bisa menyebabkan gangguan dan pembesaran otot kandung kemih akan menyebabkan fungsi kandung kemih tidak stabil.

  • Operasi prostat

Operasi kanker prostat  bisa menyebabkan efek samping berupa gangguan ereksi. Itu sebabnya banyak dokter memilih untuk menunggu perkembangan tumor karena tumor ini biasanya berkembang sangat lambat.

  • Histerektomi

Operasi pengangkatan rahim atau histerektomi dan operasi sejenisnya bisa menyebabkan terganggunya otot kandung kemih, hal ini terjadi karena otot dan jaringan rahim berdekatan dengan kandung kemih.

  • Infeksi saluran kemih

Selain bisa disebabkan hubungan seksual, infeksi saluran kemih bisa juga disebabkan oleh infeksi virus mengingat pada wanita letak uretra berdekatan dengan vagina

  • Diabetes

Diabetes yang menahun dan tidak dikendalikan bisa menyebabkan komplikasi neuropati atau rusaknya pembuluh saraf besar dan kecil. Kerusakan ini juga termasuk pada saraf di bagian kandung kemih sehingga kandung kemih yang sudah penuh tidak bisa dirasakan.

  • Obesitas

Orang yang memiliki berat badan berlebih lebih sering mengalami ngompol. Namun, hal ini lebih sering dialami kaum wanita karena perbedaan anatomi saluran kemih, berat badan yang  berlebihan bisa mendesak kandung kemih dan struktur pelvis.

  • Ketergantungan obat

Sebuah penelitian pada tahun 2009 menemukan orang yang mengonsumsi obat ketamine selama dua tahun lebih berisiko tinggi mengalami inkontinensia atau mengompol. Pengguna narkotika juga bersiko mengalami hal serupa.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY