Penyebab Wanita Mengalami Hiperseksual

0
23
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Intensitas yang tergolong tinggi saat bercinta dengan pasangan suami dan istri tidak bisa selalu dapat dikategorikan sebagai hyperseksual. Misalkan saja seorang pengantin baru dan juga pasture yang tengah berpisah jauh dalam kurun waktu yang lama, biasanya akan melakukan aktivitas hubungan seksual yang juga tinggi. Tingginya frekuensi itu lebih diwarnai oleh munculnya dorongan ataupun kebutuhan seksual saja, bukan akibat dari sebab-sebab tertentu yang mana hal tersebut menjadi sebuah ciri utama para penderita hyperseksual.

Kelainan seksual atau hyperseks ini umumnya bisa diderita oleh siapa saja, baik itu pria ataupun wanita. Wanita? Kok bisa? Padahal stigma umum yang seringkali mengalami hyperseksual adalah seorang pria.

Untuk itu berikut ini adalah ulasan mengenai gangguan hyperseksual atau yang dalam bahasa klinis disebut dengan istilah nymphomania.

Nymphomania adalah sebuah gangguan yang sepenuhnya disebabkan oleh karena faktor psikis. Salah satunya juga berakar pada terjadinya adanya penyimpangan selama masa pertumbuh di usia balita sampai dengan usia remaja, misalkann saja ia tak sengaja menyaksikan ibunya seringkali disiksa oleh ayahnya. Berbekal daripada pengalaman traumatis masa lalu tersebut akhirnya ia merasa membutuhkan seorang pendamping yang berbeda ataupun lebih baik dibandingkan dengan sang ayah. Akan tetapi dalam masa pencaharian tersebut, sulit untuknya menemukan nilai kebaikan di dalam diri sesorang tersebut sehingga ia akhirnya masuk ke dalam pergaulan dengan banyak sekali orang guna mencari dan terus menerus mencari sampai dirasakan ia menemukan orang yang pas.

Menemukan pria idaman padahal bukanlah suatu hal mudah. Bisa saja seorang pria itu memenuhi kriteria dari segi fisik akan tetapi kepribadian yang dimilikinya meragukan. Atau barangkali secara kepribadian seorang pria tersebut cocok akan tetapi dari aspek lain tidak cocok, hingga akhrinya ketidakpuasan ini dapat menimbulkan deretan ketidakpuasan yang akan mendorongnya untuk mencari dan terus-menerus mencari hingga akhirnya ia membentuk semacam kebiasaan dalam bentuk tubuh.

Apabila sang wanita tersebut telah terpengaruh ataupun minimal mengenal hubungan seksual, maka kebiasaan untuk berganti pasangan ini pada akhirnya justru membuat sang wanita mengalami kecanduan seksual. Sama seperti saat seorang yang kebiasaan merokok maka lama kelamaan orang tersebut akan mengalami kecanduan terhadap rokok. Hal tersebut bukan disebabkan oleh dari paparann zat nikotin semata, akan tetapi keiasaan yang terjadi telah menguatkan pola yang mana hal tersebut akan sangat sulit untuk di lepaskan. Begitu juga dengan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita.

Orang yang mengalami traumatis masa lalu tersbut sebelum ia mengalami nymphomania, bisa pula menggunakan seks sebagai cara untuk “memancing” para pria yang semulanya ia anggap sebagai seorang pria idaman. Hingga hal ini dapat dikatakan, dorongan seks sebetulnya merupakan bagian dari pemuas kejiwaan semata. Hingga akhrinya pola prilaku yang terbentuk ini yang akhirnya menyebabkan seorang wanita mengalami nymphomania.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY