Peranan Hormon Pertumbuhan Pada Tinggi Badan

SehatFresh.com – Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Lonjakan hormon pertumbuhan membuat dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya. Kekurangan hormon pertumbuhan dapat mengganggu pertumbuhan ini. Baru-baru ini ilmuwan Swedia menemukan bahwa hormon pertumbuhan bisa membantu anak-anak yang sehat dengan perawakan pendek untuk tumbuh lebih tinggi.

Hormon pertumbuhan adalah protein yang memberi isyarat pertumbuhan. Lokasi konstruksi utamanya adalah kelenjar pituitari, sebuah kelenjar endokrin seukuran kacang di dasar otak. Hormon ini juga diproduksi di hippocampus, pusat memori. Protein dikodekan dalam lima segmen gen pada gen SHOX dalam genom. M-RNA (molekul pembawa gen), menyalin lima segmen gen dan membawa struktur ke lokasi yang berbeda dalam sel. Blok bangunan protein ini disebut “asam amino” dihubungkan bersama sesuai urutan untuk membentuk hormon. Hormon pertumbuhan yang rusak merupakan akibat dari kesalahan penyambungan atau kesalahan dalam kode genetik.

Hormon pertumbuhan dilepaskan dari kelenjar pituitari dan memicu pelepasan hormon pertumbuhan kedua yang disebut insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Kedua hormon mengikat sel reseptor di tulang, otot dan jaringan lainnya. Di sini, hormon-hormon tersebut memberi sinyal pertumbuhan atau peningkatan pembelahan sel. Untuk pertumbuhan tulang, sel-sel tulang juga memerlukan mineral seperti kalsium dan fosfat. Profesor Harvey Guyda dari McGill University, menekankan pentingnya pengujian untuk kedua hormon pertumbuhan dan IGF-1 ketika menentukan apakah seorang anak memang mengalami kekurangan hormon pertumbuhan.

Kekurangan hormon pertumbuhan adalah suatu kondisi medis yang mengarah ke produksi hormon pertumbuhan yang tidak memadai. Profesor Gudrun Rappold dan timnya dari Heidelberg University melaporkan bahwa hal ini bisa terjadi akibat mutasi pada gen SHOX atau cacat dalam regulasi gen. Kita semua memiliki sekitar 1 persen hormon pertumbuhan yang rusak. Tetapi orang-orang dengan kekurangan hormon pertumbuhan memiliki 10 sampai 50 persen. Semakin banyak cacat pada gen, semakin lambat pula seoranga anak tumbuh. Hormon pertumbuhan yang rusak tidak dapat merangsang pertumbuhan itu sendiri serta menghalangi aktivitas hormon pertumbuhan normal.

Terapi hormon pertumbuhan dapat diresepkan secara legal untuk tiga kondisi, yaitu kekurangan hormon pertumbuhan yang menyebabkan perawakan pendek pada anak-anak, kekurangan hormon pertumbuhan dewasa karena tumor hipofisis langka dan penyakit penyusutan otot pada pasien AIDS. Namun, studi yang dipimpin oleh profesor Kestin Albertsson Wikland dari Goteborg Pediatric Growth Research Center, menunjukkan bahwa ketika seorang anak tidak kekurangan hormon pertumbuhan, terapi hormon pertumbuhan juga dapat meningkatkan tinggi terakhirnya. Para peneliti melihat peningkatan rata-rata lebih dari tiga inci, dan dalam beberapa kasus mereka menemukan peningkatan hingga delapan inci. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan terkait efek sampingnya.

Sumber gambar : hikmahkebersamaan.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY