Perbedaan Demensia dan Alzheimer

elderly couple on beach

Demensia dan penyakit Alzheimer seringkali membingungkan. Banyak orang menggunakan kata-kata “demensia” dan “penyakit Alzheimer” secara bergantian. Namun, sebenarnya kedua kondisi tersebut tidak sama. Anda bisa saja menderita demensia yang sama sekali tidak berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Sebagian besar orang seringkali tidak bisa membedakan demensia dengan penyakit Alzheimer.

Demensia
Demensia bukanlah penyakit, melainkan kumpulan gejala yang memengaruhi kinerja mental seperti memori dan penalaran. Demensia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, yang paling umum adalah penyakit Alzheimer. Seiring perkembangannya, demensia bisa berdampak buruk pada kemampuan otak untuk berfungsi secara independen.

Gejala awal demensia seringkali terabaikan, yang biasanya berawal dari sifat mudah lupa. Seiring perkembangannya, penderita juga mengalami kebingungan. Tanda-tanda lain dari demensia adalah pertanyaan berulang-ulang dan kesulitan mengambil keputusan. Pada stadium lanjut, penderita demensia bahkan menjadi tidak mampu merawat diri mereka sendiri. Mereka juga bingung akan waktu, tempat, dan orang-orang di sekitar mereka. Perilaku terus berubah, yang pada akhirnya bisa mengarah pada depresi dan agresi.
Banyak kondisi dapat menyebabkan demensia, termasuk penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, dan Huntington. Menurut Cleveland Clinic, penyakit Alzheimer bertanggung jawab untuk 50 hingga 70 persen dari semua kasus demensia. Infeksi seperti HIV dapat memicu demensia, begitu juga penyakit pembuluh darah dan stroke. Depresi dan penggunaan narkoba kronis adalah penyebab lain yang dicurigi bertanggung jawab terhadap demensia.
Demensia terdiri dari serangkaian gejala yang dapat menjadi indikasi lebih dari satu kondisi yang mendasarinya. Seringkali, penderita ditemukan memiliki beberapa kondisi yang dapat menyebabkan demensia.

Alzheimer
Alzheimer adalah penyakit progresif otak merusak memori dan fungsi kognitif secara perlahan. Penyebab pastinya tidak diketahui dan belum ada obatnya. Meskipun orang-orang muda juga berisiko Alzheimer, gejala umumnya dimulai setelah usia 60 tahun. Alzheimer merupakan bagian dari demensia, belum tentu semua orang akan mengalaminya. Bila seseorang sudah mengalami Alzheimer, artinya dia telah menderita demensia terlebih dahulu.

Gejala Alzheimer umumnya berkembang secara perlahan. Gejala mungkin diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama tempat, kemudian berkembang menjadi disorientasi serta perubahan perilaku. Jika penyakit Alzheimer sudah mencapai stadium parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah berbahasa, serta ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehingga perlu dibantu orang lain.

Kerusakan otak dimulai beberapa tahun sebelum gejala muncul. Endapan protein abnormal akan membentuk plak di otak seseorang dengan penyakit Alzheimer. Pada stadium lanjut, otak menunjukkan penyusutan yang signifikan. Tim medis mustahil untuk bisa mendiagnosa Alzheimer dengan akurasi 100 % ketika seseorang masih hidup. Diagnosis hanya dapat dikonfirmasikan selama otopsi, saat otak diperiksa di bawah mikroskop. Menurut The National International Health, para ahli dapat membuat diagnosis yang benar hingga 90% sejak gejala awal terdeteksi.

*pic psikologiku.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY