Perbedaan Ereksi dengan Hiperseks

SehatFresh.com – Ereksi pada waktu pagi adalah sesuatu yang rutin dialami oleh para pria. Dan para ahli pun menyebut hal ini normal. Biasanya ereksi terjadi ketika pria tertidur sehingga tak jarang pria terbangun dengan penis masih dalam keadaan ereksi. Hingga saat ini, mekanisme terjadinya ereksi pagi ini belum diteliti secara benar.

Selain di pagi hari, ereksi ternyata juga kerap dialami pria di saat-saat yang tak terduga, terutama pada pria muda atau remaja. Ketika melihat berbagai pemandangan yang sifatnya erotis, baik itu berupa foto atau video porno, secara normal pria akan terangsang atau ereksi. Namun dalam beberapa kasus, pria juga mengalami sebuah kondisi di mana mereka sangat mudah terangsang. Banyak orang sering kali mengaitkan hal ini dengan hiperseks. Lantas, apa itu benar?

Menurut Dr Andik Wijaya, MRedMed (Dipl), dalam bukunya yang berjudul “Seksplorasi 55 Masalah Seksual: Yang Ingin Anda Ketahui Tapi “Tabu” Untuk Ditanyakan”, kondisi penis yang mengalami ereksi terus-menerus bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti gangguan sirkulasi atau penyakit. Maka dari itu, perlu dicermati dulu frekuensi serta periodenya. Namun, belum ada bukti jelas bahwa hal ini ada hubungannya dengan perilaku hiperseks.

Hiperseks atau kecanduan seks itu sendiri digambarkan sebagai perilaku seksual yang patologis. Gangguan ini ditandai dengan dorongan yang sangat kuat untuk melakukan hubungan seks. Ketika dorongan seksual ini muncul, mereka akan sangat sulit untuk mengendalikan hasratnya. Tidak jarang orang yang mengidap hiperseks terlibat kasus kriminal seperti perkosaan atau pelecehan seksual.

Namun, jika pasangan mengalami ereksi yang terus-menerus tanpa periode flaccid (kendur), ini berarti ia mengalami masalah medis yang disebut priapismus. Prapismus ditandai dengan menetapnya ereksi selama paling sedikit lebih dari empat jam tanpa rangsangan atau keinginan seksual. Kondisi seperti ini sudah pasti membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Jika gangguan ini tidak segera mendapat evaluasi medis maka bisa mengarah pada impotensi.

Jika kondisi ereksi tidak terjadi terus-menerus, namun ada periode di mana penis mengalami fase kendur, maka ini bukanlah gejala penyakit tertentu. Sangat wajar jika pria sangat mudah terangsang dan mengalami ereksi terutama pada anak-anak usia remaja menuju ke dewasa (usia 20-an). Hal ini terjadi karena sistem sirkulasi darah dan fungsi saraf di penis sedang memuncak dan bekerja pada tingkat yang optimal. Kondisi ini juga seakan didukung dengan jumlah hormon testosteron yang memang sedang pada puncaknya di usia muda.

Sumber gambar : www.slideshare.net

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY