Perbedaan Pre Menstrual Syndrome (PMS) dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

www.sehatfresh.com

SehatFresh.comPre menstrual syndrome merupakan kombinasi dari gangguan-gangguan fisik dan emosi yang terjadi setelah wanita berovulasi dan berakhir dengan menstruasi. Gejala-gejala yang paling umum berhubungan dengan suasana hati adalah mudah marah, depresi, menangis, sensitivitas yang berlebihan dan turun naiknya suasana hati dengan kesedihan dan marah yang silih berganti.

Gejala-gejala fisik yang paling umum adalah kelelahan, perut kembung, kepekaan payudara (mastalgia), acne (jerawat) dan perubahan-perubahan nafsu makan dengan permintaan-permintaan makanan. Tingkatan PMS yang dialami setiap perempuan berbeda-beda, dari yang sangat ringan, hingga terasa sangat berat dan mengganggu rutinitas sehari-hari.

Jenis PMS yang sangat intens hingga mengganggu aktivitas ini, tidak bisa dikategorikan lagi sebagai syndrome atau gejala, melainkan disorder atau gangguan. PMS yang mengganggu, dalam dunia medis dikenal sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) adalah bentuk lebih ekstrim atau berat dari PMS. Mungkin ada perubahan hormon selama siklus haid yang mengakibatkan perubahan suasana hati, kelelahan, tubuh sakit, kram menstruasi, payudara sakit, sakit kepala, perut kembung dll. Ada lebih dari 100 gejala yang mencirikan PMS dan tidak ada dua wanita menderita berbagai serupa gejala.

Lebih lanjut gejala mungkin berbeda dari bulan ke bulan dalam banyak perempuan. Perempuan dengan PMDD memiliki gejala depresi parah, lekas marah, dan ketegangan sebelum periode mereka. Ini lebih parah daripada PMS. PMDD dapat mempengaruhi perempuan 3-8% selama periode bantalan anak kehidupan.

Sebenarnya, perbedaan utama PMDD dengan PMS adalah tingkat keparahan gejalanya. Orang yang mengalami PMS biasanya masih mampu beraktivitas meskipun punya keluhan tertentu. Sedangkan orang dengan PMDD seringkali tak bisa beraktivitas layaknya orang yang sedang sakit. Selain itu, kasus PMDD biasanya membutuhkan penanganan medis, sementara PMS tidak.

Dalam kasus tertentu, wanita yang dilanda gangguan ini bahkan punya kecenderungan lebih besar untuk mengalami depresi hingga mencoba bunuh diri. Padahal, nanti ketika menstruasinya sudah tuntas, keadaannya akan membaik dengan sendirinya.

Berdasarkan data dari WHO, di seluruh dunia hanya 45% perempuan yang mengalami PMS merasa perlu mengonsultasikan masalah mereka dengan dokter dan hanya 27% dari jumlah tersebut yang mengakui mengalami gangguan emosional intens menjelang menstruasi.

Dari 90% yang menolak berkonsultasi dengan dokter tentang PMS dan PMDD yang dialami mengatakan bahwa mereka mampu mengatasi masalah mereka sendiri dan 1 dari 4 di antara mereka menambahkan bahwa ketika mereka mengeluhkan masalah tersebut, dokter cenderung tidak memperhatikan keluhan mereka secara serius.

PMS dan PMDD itu bisa dialami siapapun di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri. Jangan menolak untuk mengonsultasikannya dengan dokter, karena gejala dan gangguan tersebut bisa jadi bertambah intens seiring perubahan hormonal tubuh kita, dan jangan biarkan kualitas hidup kita turun hanya karenanya. (KKM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here