Perceraian Orang Tua Menjadi Penyebab Remaja Menjadi Attention Seeker

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Menjadi remaja yang memiliki gejala attention seeker bukanlah terjadi tanpa penyebab. Selain karena lingkungan dan pengalaman masa kecil, perceraian orangtua ternyata mampu menjadi penyebab seorang remaja menjadi attention seeker. Remaja adalah individu yang sedang mencari jati diri. Mereka sangat rawan akan pengaruh negatif dari lingkungannya. Oleh karena itu peran orang tua ketika anak menginjak usia remaja sangatlah penting.

Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat mereka kaget sekaligus terganggu. Selain itu, remaja yang orangtuanya bercerai secara psikologis sudah berbeda dari sebelumnya. Meskipun masih bergantung pada orangtua, saat ini mereka memiliki suara batin kuat yang memberitahu mereka untuk menjadi mandiri dan mulai membuat kehidupan mereka sendiri. Tetap bergantung tidak sesuai lagi untuk rasa aman dan kesejahteraan diri mereka.

Remaja pada zaman sekarang ini mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Dengan segala kemudahan yang ada sekarang ini membuat mereka menjadi individu yang lemah, manja dan cepat sekali menyerah. Tanpa arahan dan petunjuk dari orang tuanya, mereka tidak akan bisa berdiri sendiri menghadapi masalah. Sayangnya, orang tua yang mempunyai pengaruh penting bagi kelangsungan hidup anaknya. Ketika sang anak tidak mendapatkan haknya dari orangtua, saat itulah ia akan berusaha mencari haknya di tempat lain. Perhatian yang tidak didapatkan di rumah, membuatnya berusaha mencari diluar. Hal inilah yang membentuk sang anak menjadi seorang attention seeker.

Perselisihan orang tua yang berujung pada perceraian seringkali menjadikan anak-anak sebagai korban. Secara langsung ataupun tidak mereka akan merasakan akibat dari perpisahan kedua orang tuanya. Efek langsung yang dialami sang anak adalah perasaan kehilangan salah satu sosok orang tua yang biasanya mereka jumpai setiap hari. Lalu, dampak lain pun akan muncul perlahan-lahan. Ini dapat terlihat pada kesehatan mental anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh profesor dari Unversity of Montreal, Jennifer O’Loughlin, menunjukkan anak-anak remaja yang menghadapi perceraian orang tua biasanya akan mengalami gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, seperti stres, cemas dan depresi. Tentu saja gangguan tersebut tidak boleh dibiarkan. Menurut O’Loughlin, anak-anak membutuhkan dukungan untuk mencegah peningkatan depresi dan gangguan kesehatan mental lain.

Perceraian juga dapat mengganggu perkembangan normal dalam kehidupan anak-anak. Perceraian juga mengakibatkan anak menjadi seorang pencari perhatian karena perhatian dasar ketika di rumah tidak dia dapatkan.

Sebagai orangtua, bijaklah dalam mengambil sikap. Orang tua dapat menentukan di mana anak akan tinggal dan bersekolah. Namun juga harus memiliki waktu yang fleksibel agar anak dapat menghubungi dan berbicara dengan orang tuanya kapan saja. Untuk itu, penting bagi pasangan yang akan bercerai untuk membaca buku soal perceraian ataupun mendatangi pakar konseling pernikahan. (SFK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here