Perhatikan Cara Penanganan Inversio Uteri

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sahabat wanita, saat terjadi inversio uteri, maka penanganannya dapat dilakukan dengan cara apa ya? Artikel berikut akan memberikan solusinya.

Bagaimana Penanganan Inversio Uteri?

Peringatan agar tidak terjadi inversio uteri ialah dengan berhati-hati dalam memimpin jalannya persalinan, dokter atau bidan tidak boleh mendorong rahim secara berlebihan atau perasat Crede secara berulang-ulang. Waspada dalam menarik tali pusat atau saat mengeluarkan plasenta menggunakan tangan.

  • Sebanyak 90% ibu hamil yang mengalami persalinan dan mengalami inversio uteri selalu disertai dengan perdarahan masif atau “life-threatening”. Untuk menurunkan renjatan vasovagal atau perdarahan hebat maka perlu dilakukan reposisi sesegera mungkin.
  • Bila diketahui mengalami inversion uteri maka langsung ambil tindakan resusitasi.
  • Apabila plasenta dalam kondisi melekat, maka jangan langsung dilepas karena akan membuat sang ibu mengalami perdarahan hebat.
  • Tehnik reposisi yang perlu dilakukan yaitu dengan menempatkan jari tangan berada di fornix posterior, kemudian dorong uterus masuk ke dalam vagina, dorong fundus kembali ke arah umbilicus, serta pastikan ligamentum uterus berada pada posisi semula.
  • Penanganan juga bisa dilakukan dengan teknik alternatif yaitu dengan menggunakan 3 hingga 4 jari pada tengah fundus, kemudian dorong ke arah umbilkus hingga uterus menuju posisi normal.
  • Apabila reposisi sudah dilakukan, maka tangan harus menekan fundus uteri, masukkan oksitosin setelah kontraksi, dan tangan bisa dikeluarkan secara pelan sehingga inversio uteri tidak terjadi lagi.
  • Jika penanganan reposisi per vaginam gagal, maka sangat perlu segera dilakuakn reposisi laparotomi.
  • Apabila sudah dilakukan reposisi laparotomi, maka perlu dilakukan terapi sebagai berikut:
  1. Jika terjadi pendarahan atau syok, sesegera mungkin diberikan infus dan transfusi darah.
  2. Segera lalukan reposisi atau bahkan segera lakukan narkosa
  3. Jika belum berhasil, maka ambil tindakan koperatif perabdominal atau operasi haultein dan pervaginam atau operasi menurut Spinelli.
  4. Jika sedang di luar rumah sakit maka perlu dilakukan reposisi ringan dengan tamponade vaginal, beri antibiotika sebagai pencegahan infeksi.

Penanganan yang Dilakukan Sebelum Diambil Tindakan

  1. Segera Lakukan Koreksi Manual
  • Pakailah sarung tangan DTT.
  • Pegang uterus pada bagian insersi tali pusat dengan memasukkannya lewat serviks, pakailah tangan lain untuk menahan uterus dinding abdomen.
  • Apabila plasenta masih belum terlepas, maka segera lakukan plasenta manual dengan mengambil tindakan koreksi dengan memasukkan fundus uteri.
  • Apabila sudah dikoreksi manual tidak berhasil,lakukan koreksi hidrostatik.
  1. Lakukan Koreksi Hidrostatik
  • Penderita dalam kondisi trendelenburg, kepala lebih rendah 50 cm dari perineum.
  • Lakukan pembilasan pada bagian yang sudah desinfeksi dengan menggunakan selang 2m yang ujungnya terdapat semprotan yang lubangnya besar kemudian sambung dengan tabung air hanyat sebanyak 2-5 l atau NaCl dengan tinggi 2 m.
  1. Lakukan Identifikasi Forniks Posterior
  • Pasanglah ujung selang douche melalui forniks posterior hingga menutup labia dengan ujung selang tangan.
  • Alirkan air sehingga menekan uterus pada posisi awal.
  1. Lakukan Koreksi Manual dengan Anestesia yang Umum
  • Apabila koreksi hidrostatik mengalami kegagalan maka upayakan reposisi anastesia umum. Kemudian lakukan halotan sebagai relaksasi uterus.
  1. Lakukan Koreksi Kombinasi Antara Abdominal dan Vaginal
  • Mengkaji ulang indikasi.
  • Mengkaji ulang prinsip perawatan operatif.
  • Mengambil tindakan insisi dinding abdomen hingga peritoneum dan menyingkirkan usus menggunakan kasa.tampak uterus atau lekukan.
  • Memakai jari cincin konstriksi serviks.
  • Memasang tenakulum melalui cincin serviks di bagian fundus.
  • Menarik traksi ringan di dalam fundus sementara asisten mengoreksi manual melalui vagina.
  • Apabila tindakan traksi gagal, maka segera lakukan insisi cincin kontriksi serviks pada bagian belakang sehingga resiko cedera kandung kemih dapat diatasi.
  • Apabila dinding abdomen sudah ditutup, maka segera jahit hemostasis tanpa adanya perdarahan.
  • Apabila ada kemungkinan infeksi maka segera pakailah drain karet.

Demikian informasi mengenai cara penanganan inversion uteri. Semoga bermanfaat bagi Pembaca. (MLS).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here