Perilaku Sedentari atau Tidak Banyak Bergerak pada Pria

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sedentari adalah kebiasaan-kebiasaan dalam hidup yang tidak melibatkan banyak aktivitas fisik atau dengan kata lain tidak banyak melakukan gerak. Gaya hidup sedentari telah menjadi isu penting di Indonesia maupun seluruh dunia. Hal ini karena sedentari telah terbukti menjadi faktor penyebab meningkatnya penyakit tidak menular(PTM). Dan dengan meningkatnya PTM secara otomatis akan menghambat masyarakat memiliki kehidupan yang lebih baik.

Perilaku sedentari yang dilakukan sejak masa kecil hingga lansia akan mempengaruhi kesehatan seumur hidup. Perilaku sedentari cenderung terus meluas dalam masyarakat berteknologi maju. Perilaku sedentari merupakan suatu perilaku duduk atau berbaring dalam kegiatan sehari-hari baik di tempat kerja (membaca, di depan komputer dan lain lain), di rumah (menonton TV, bermain game dan lain lain), di perjalanan/transportasi (kereta, bus, mobil, motor dan lain lain), tetapi tidak termasuk saat tidur.

Individu yang kurang melakukan perilaku sedentari (sedentary lifestyle) menyerap dan juga menyimpan banyak kalori karena pengeluaran energi yang berkurang. Penimbunan kalori yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya obesitas. Perilaku sedentari aktif terbagi dalam perilaku sedentari berat atau sedang ataupun keduanya, sedangkan kriteria kurang aktif adalah individu yang tidak melakukan perilaku sedentari sedang ataupun berat.

Perilaku sedentari berat pada pria adalah kegiatan yang secara terus menerus melakukan kegiatan fisik minimal 10 menit sampai meningkatnya denyut nadi dan napas lebih cepat dari biasanya (misalnya menimba air, mendaki gunung, lari cepat, menebang pohon, mencangkul, dan lain lain) selama minimal tiga hari dalam satu minggu dan total waktu beraktivitas ≥1500 Metabolic Equivalent Task (MET) minute. MET minute perilaku sedentari berat adalah lamanya waktu (menit) melakukan aktivitas dalam satu minggu dikalikan bobot sebesar 8 kalori.

Perilaku sedentari sedang pada pria adalah kegiatan yang dilakukan minimal lima hari atau lebih dengan total lamanya beraktivitas 150 menit dalam satu minggu. Selain dari dua kondisi tersebut termasuk dalam perilaku sedentari ringan (WHO, 2012). Proporsi perilaku sedentari tergolong  5 kurang aktif di Indonesia adalah 26,1% sementara Provinsi tertinggi dengan proporsi perilaku sedentari kurang aktif adalah Provinsi DKI Jakarta (44,2%) dan Provinsi Lampung menempati posisi ke 24dengan 23,8 persen (Kemenkes, 2013).

Perilaku sedentari kurang aktif atau gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemajuan teknologi, etnis dan status sosial ekonomi, jam kerja yang panjang, dan juga faktor demografi (usia dan gender)

Ada banyak kegiatan yang memungkinkan orang dewasa untuk duduk dalam waktu yang cukup lama, beberapa hal yang dapat meningkatkan sitting time yaitu saat sarapan pagi, saat mengemudi menuju tempat kerja, saat duduk di meja kerja, saat pulang kerja, saat makan malam, saat malam hari untuk melakukan sedentary activity lainnya seperti menonton televisi, menggunakan komputer dan bersosialisasi. Orang dewasa menghabiskan lebih dari setengah waktunya untuk duduk.

Beberapa pekerjaan tertentu mempengaruhi suatu individu terhadap perilaku sedentari diantaranya pekerjaan professional atau terdidik yang bekerja di perkantoran yang ditandai dengan duduk untuk jangka waktu yang lama. Misalnya pekerja dari lembaga keuangan atau institusi tertentu mereka menghabiskan sebagian besar waktu untuk duduk karena sifat dari pekerjaan mereka. Akhirnya, mereka akan kurang terlibat dalam perilaku sedentari atau olahraga di luar jam 6 kerja.

Oleh karena itu, pekerja di lembaga tersebut menjadi rentan untuk terkena obesitas dan kelebihan berat badan atau yang bisa mempengaruhi mereka untuk terkena penyakit kronis yang berhubungan dengan perilaku sedentari. Hal ini bisa disebabkan oleh perubahan dalam metabolisme karyawan atau seorang pria ini karena mereka terus-menerus duduk untuk berjam-jam.


Warning: A non-numeric value encountered in /home3/sehatfre/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here