Perlukah Pap Smear Sebelum Nikah?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kanker serviks menjadi pembunuh nomor satu untuk wanita di Indonesia. Tercatat ada sekitar 21 ribu kasus wanita penderita kanker serviks di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya kasus kanker serviks di Indonesia karena tidak adanya pemantauan pap smear sebagai salah satu cara pencegahan kanker serviks dini.

Bagi wanita yang telah menikah dan telah melakukan hubungan seksual, sangat dianjurkan untuk melakukan pap smear. Namun, bagaimana dengan yang belum menikah? Dr. Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes menjelaskan, pap smear boleh dilakukan oleh wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual.

“Apakah boleh, belum menikah tapi Anda mau melakukan tes itu? Tidak masalah, tak ada apa-apa. Ini berarti Anda peduli dengan diri sendiri,” ungkapnya. Lantas, apakah benar, wanita lajang yang melakukan tes ini akan hilang keperawanan?

“Itu kan katanya, jangan katanya. Kata dokter dong. Seorang wanita bisa tidak perawan lagi itu karena disentuh (masuk) oleh organ intim pria,” paparnya. Pemeriksaan pap smear sendiri adalah prosedur pengambilan sampel sel dari leher rahim guna memastikan ada atau tidak adanya ketidaknormalan yang dapat mengarah kepada kanker serviks pada wanita.

Pap smear ini dilakukan untuk melihat perubahan sel-sel dalam serviks wanita. Jadi, dalam prosesnya, sampel sel dalam serviks wanita akan diambil untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Pada saat pemeriksaan, pasien mungkin akan diminta untuk melepas bajunya dari pinggang ke bawah. Kemudian, ia diminta untuk berbaring di meja khusus dengan lutut ditekuk. Dokter akan memasukkan alat yang disebut dengan spekulum ke dalam vagina pasien.

Diameter alat ini beragam, mulai dari 1–5 cm. Alat ini berfungsi untuk melebarkan vagina sehingga dokter bisa melihat leher rahim si pasien dan mengambil sampel sel-sel serviksnya dengan alat yang disebut spatula.

Inilah yang menjadi kekhawatiran bagi sebagian wanita yang beranggapan pap smear bisa menghilangkan keperawanan. Jadi, jangan heran bila pemeriksaan pap smear jarang dilakukan pada wanita yang belum menikah karena dikhawatirkan bisa merusak selaput dara.

Padahal, dengan spekulum kecil, selaput dara tidak akan terganggu. Untuk mengambil sel-sel dari mulut atau leher rahim dan vagina, digunakan alat lain (spatula) atau dengan cotton bud. Pemeriksaan pap smear dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan, berupa keganasan sel pada mulut atau leher rahim.

Namun, keganasan sel itu jarang ditemukan pada seorang wanita yang belum pernah berhubungan seksual atau belum mempunyai anak. Tapi, pemeriksaan pap smear sebaiknya dilakukan tiap dua tahun sekali dimulai dari usia 21 tahun. Setelah usia 30 tahun, tes ini dapat dilakukan tiap tiga tahun sekali.

Tak hanya itu, penting juga melakukan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi human papilloma virus (HPV). Cara itu lebih baik diberikan pada wanita yang belum melakukan kontak seksual. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here