Perubahan Mental Remaja Kala Masa Pubertas

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Manusia menjalani berbagai periode dalam kehidupannya. Salah satunya adalah pubertas. Tak hanya fisik, perubahan mental pun dialami oleh seseorang yang memasuki masa pubertas.

Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual. Umumnya, pubertas pada remaja perempuan berlangsung dari usia 11 –15 tahun, sedangkan pada remaja laki-laki saat berumur 12–16 tahun.

Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan di mana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi. Tahap ini disertai dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan somatis dan perspektif psikologis.

Pertumbuhan somatis itu biasa diibaratkan pertumbahan fisik, seperti tinggi, berat badan, suara dan lain-lain. Sementara itu, dari perspektif psikologis, perubahan yang dialami oleh seorang remaja saat pubertas mencakup:

  • Mulai tertarik dengan lawan jenis

Sebelum puber, anak-anak belum tertarik dengan lawan jenis. Namun, ketika memasuki masa pubertas, mereka umumnya sudah mulai tertarik dengan lawan jenis.

  • Menyendiri

Biasanya, saat puber, remaja terkadang menarik diri dari teman-teman dan keluarga. Mereka kerap lebih suka melamun. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain. Sejumlah remaja pada masa ini, contohnya, sudah mulai pacaran. Setelah beberapa bulan pacaran, ternyata putus. Di saat itulah seorang remaja menarik diri dari lingkungan, misalnya sering menangis di dalam kamar.

  • Bosan dan malas

Remaja yang memasuki masa pubertas mulai merasa bosan dengan rutinitas. Hal-hal yang sebelumnya rutin dilakukan, kini mulai enggan dilakoni. Kebosanan yang melanda diri mereka ini turut memicu rasa malas untuk melakukan sesuatu.

  • Inkoordinasi

Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi koordinasi gerakan seorang remaja. Ia akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.

  • Antagonisme sosial

Remaja puber terkadang tidak mau bekerja sama, membantah, dan menentang. Dengan berlanjutnya pubertas, seorang remaja kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama, dan lebih sabar kepada orang lain.

  • Mudah tersulut emosinya

Emosi, seperti merajuk, ledakan amarah, dan kecenderungan untuk menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal pubertas. Remaja pada masa pubertas cenderung sensitif, bersikap reaktif, emosi negatif, dan tempramental. Namun, dengan semakin matangnya keadaan fisik, ketegangan emosi lambat laun berkurang. Mereka sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.

  • Kurang percaya diri

Remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri, sekarang menjadi kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan kondisi emosi yang belum stabil. Tak jarang, kurangnya rasa percaya diri memicu seorang remaja untuk rendah diri dan mudah merasa malu secara berlebihan di kemudian hari.

  • Tidak tenang

Ini adalah suatu keadaan ketidakseimbangan emosi. Akibatnya, seorang remaja senantiasa merasa gelisah, banyak tingkah, atau mudah berubah-ubah pendiriannya.(SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here