Perubahan Serviks Setelah Menopause

SehatFresh.com – Seiring waktu dan pertambahan usia, seorang wanita akan menjadi tua dan akhirnya memasuki menopause. Hal alamiah ini mengakibatkan tubuh mengalami sejumlah perubahan. Kebanyakan wanita memasuki menopause antara usia 45 dan 55, meskipun ini bervariasi. Beberapa perubahan yang terjadi karena menopause tampak jelas, sementara yang lainnya bisa lebih halus. Salah satu perubahan karena menopause yang tidak tampak jelas ini terkait dengan perubaahan serviks (leher rahim) yang efeknya cukup signifikan.

Serviks merupakan daerah pada organ reproduksi wanita yang menjadi pintu masuk ke arah rahim. Saat lahir, bayi melewati kanal di pusat serviks, disebut kanal endoserviks. Karena leher rahim harus mendukung janin selama kehamilan dan menyimpannya di dalam rahim, maka leher rahim semakin membesar. Kanal di bagian atas leher rahim (endoserviks) dilapisi dengan sel-sel yang membuat lendir, sementara bagian bawah (ektoserviks) dilapisi dengan sel-sel khusus untuk menahan abrasi permukaan dengan persimpangan antara dua daerah yang disebut zona transformasi. Kelenjar yang luas di bawah lapisan serviks menghasilkan lendir pelumas yang mengalir ke dalam vagina.

Kelenjar serviks dan sel-sel yang melapisi saluran endoserviks membuat lendir dalam menanggapi hormon wanita yang diproduksi oleh ovarium selama siklus menstruasi. Setelah menopause, ketika ovarium seorang wanita berhenti membuat hormon-hormon ini, sel-sel dan kelenjar tersebut memproduksi lebih sedikit lendir yang akibatnya menyebabkan kekeringan pada vagina, di mana lendir biasanya bertindak sebagai pelumas.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam isu “Fertility and Sterility”, pada Oktober 2001, juga menemukan bahwa sel-sel yang melapisi serviks mengubah bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain setelah menopause sehingga hanya memungkinkan sedikit cairan dari jaringan di bawahnya untuk memasuki kanal serviks. Ini juga berkontribusi terhadap kekeringan di vagina. Kekeringan vagina dapat menyebabkan ketidaknyamanan mulai dari rasa panas atau gatal pada vagina hingga nyeri selama hubungan seksual.

Setelah menopause, rahim menjadi lebih kecil tanpa produksi hormon wanita bulanan. Jaringan yang membentuk leher rahim umumnya menjadi lebih tipis dan kurang kuat, dan zona transformasi di mana lapisan serviks berubah cenderung bergerak lebih tinggi dan sedikit ke dalam kanal endoserviks. Perubahan ini membuat zona transformasi menjadi lebih sulit untuk diperiksa pada pengujian leher rahim, yang disebut kolposkopi.

Meskipun seorang wanita tidak lagi menstruasi setelah menopause, namun masih penting bagi setiap wanita untuk mengunjungi spesialis ginekologi secara teratur untuk mengetahui dan memantau kesehatan reproduksinya. Misalnya, pap smear diperlukan untuk mendeteksi berbagai masalah yang mungkin muncul setelah menopause. Kondisi lain yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan serviks termasuk adanya pertumbuhan polip atau masalah lain yang dapat menyebabkan pendarahan serviks.

Sumber gambar : newbisnisonline.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY