Remaja Putri Rentan Anorexia

SehatFresh.com – Banyak remaja terutama remaja perempuan yang ingin memiliki tubuh kurus karena pengaruh dari orang lain. Hal ini membuat mereka menjadi takut gemuk dan terdorong melakukan diet penurunan berat badan. Padahal remaja masih berada dalam tahap pertumbuhan yang memerlukan asupan nutrisi besar bagi perkembangan tubuhnya sehingga mereka tidak bisa melakukan sembarang diet. Kekhawatiran akan kegemukan menjadi salah satu gangguan yang serius. Menurut para ahli, remaja putri lebih rentan mengalami gangguan makan jika dibandingkan dengan wanita usia dewasa atau bahkan dengan pria. Hal ini dikarenakan di kalangan remaja putri, banyak yang beranggapan bahwa perempuan cantik itu harus langsing,

Ada dua jenis gangguan pola makan yang cukup terkenal, yaitu anoreksia nervosa dan bulimia. Anoreksia adalah menahan makanan masuk ke dalam tubuh karena takut kenyang lalu gemuk. Penderita anoreksia biasanya tidak mau makan, meskipun lapar dan nafsu makannya tidak terganggu. Jika makan, mereka biasanya mengasup sedikit saja. Sementara itu, bulimia memiliki ciri berbeda. Penderita bulimia biasanya memuntahkan kembali makanan yang telah ditelannya dengan cara mengorek kerongkongannya untuk merangsang-mual. Mereka juga kerap menggunakan obat pencahar untuk mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi sesegera mungkin.

Berat badan penderita gangguan makan biasanya sangat ringan, bahkan sampai di bawah normal. Selain kurus, penderita gangguan makan juga terlihat memiliki rambut dan kuku tipis, serta kulit yang kering. Gangguan makan terjadi karena perilaku makan berupa perilaku mengurangi makan hingga pada perilaku mengonsumsi makanan secara berlebihan. Pola perilaku ini disebabkan oleh pengaruh tekanan atau disebabkan oleh beberapa faktor pengondisian bentuk tubuh tertentu.

Gangguan makan biasanya dimulai pada awal dewasa, beberapa laporan menyebutkan bahwa gangguan tersebut juga muncul di awal masa kanak-kanak yang berlanjut pada usia dewasa. Gangguan makan yang terjadi pada masa kanak-kanak biasanya mereka sembunyikan dari orangtua.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang mengalami gangguan makan, diantaranya:

  • Faktor genetik

Menurut beberapa penelitian, ada kemungkinan bahwa gangguan makan diturunkan melalui genetik. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat orang tua yang memiliki riwayat gangguan tersebut akan lebih rentan mengalami gangguan makan.

  • Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh

Gangguan makan biasanya mulai terjadi pada usia remaja. Usia remaja merupakan usia pencarian jati diri dimana anak biasanya akan menyamakan dirinya dengan teman sebaya agar mereka bisa diterima dalam kelompok tersebut. Apabila pada proses perncarian jati diri tersebut remaja merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, ada kecenderungan mereka mengalami gangguan makan.

  • Hubungan dengan orang tua

Menurut beberapa penelitian, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang salah dapat menyababkan anak-anak tersebut merasa keinginan yang diharapkan orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Anak dengan kondisi ini tidak belajar mengindentifikasi dorongan internal mereka. Faktor kepribadian seperti kurangnya rasa percaya diri juga cenderung membuat seorang anak menjadi perfeksionis.

Gangguan makan anorexia, hingga kini tercatat sebagai penyakit dengan tingkat mortalitas paling tinggi, karena dapat mengakibatkan kegagalan fungsi penting dari organ-organ tubuh. Yang paling ekstrim adalah sekitar 10 persen penderitanya melakukan bunuh diri. Metode yang biasa dilakukan untuk menangani gangguan makan adalah dengan memberikan obat-obatan anti depressi untuk memperbaiki kondisi mental penderita. Setelah itu dilakukan psikoterapi, baik secara rawat inap maupun rawat jalan. Tujuannya untuk menanamkan kembali rasa percaya diri dan mengembalikan mereka ke pola makan normal. Terapi mungkin memakan waktu lama dan harus dilakukan secara konsisten.

Sumber gambar : sandiegopurplecow.org

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here