Risiko Bell’s Palsy pada Wanita Hamil

www.sehatfresh.com

SehatFresh.comBell’s Palsy, atau Idiopathic Facial Palsy (IFP), adalah kondisi kelemahan atau bahkan kelumpuhan unilateral (satu sisi) pada wajah karena kerusakan pada saraf yang mengontrol otot wajah dengan penyebab yang belum diketahui secara pasti. Gejala Bell’s Palsy muncul secara tiba-tiba lalu mereda dalam beberapa hari, dan kadang disertai gejala lain seperti nyeri di dalam atau di belakang telinga, mati rasa atau kesemutan pada sisi wajah unilateral, mata kering dan perubahan reflek gerak mata, meneteskan air liur, hyperacusis (sensitivitas yang berlebih terhadap rangsang suara), gangguan deteksi rasa pada lidah bagian anterior ipsilateral (pada sisi yang sama dengan bagian wajah yang terserang), dan gangguan bicara.

Bell’s Palsy pada wanita dua hingga tiga kali lebih sering daripada pria. Beberapa  faktor resiko dari kondisi ini adalah diabetes melitus, infeksi saluran nafas, riwayat keluarga dengan Bell’s Palsy, dan kehamilan. Insiden Bell’s Palsy  pada wanita hamil tertinggi pada trimester ketiga dan periode immediate postpartum. Dalam persentase yang kecil, terdapat kondisi bilateral Bell’s Palsy pada kehamilan.

Insiden Bell’s Palsy pada wanita hamil diduga berkaitan dengan infeksi Herpes Simplex Virus (HSV). Wanita hamil pada trimester ketiga cenderung mengalami kerentanan imunologis dikarenakan peningkatan titer hormon Cortisol. HSV yang laten dapat mengalami reaktivasi pada kondisi imun yang menurun. Reaktivasi virus ini pada periode immediate postpartum diduga berkaitan dengan penggunaan anestesi epidural atau intrathecal Morphine. Kondisi ini sering mengalami misdiagnosis dengan Ramsay Hunt Syndrome, tetapi virus yang terlibat adalah Varicella Zoster Virus.

Bukti ilmiah tentang komplikasi Bell’s Palsy pada kehamilan belum banyak terungkap. Secara umum, Bell’s Palsy pada wanita hamil tidak beresiko menimbulkan kecacatan kongenital pada bayi, dan cenderung memiliki prognosis kesembuhan yang baik. Komplikasi yang terjadi pada wanita hamil dengan Bell’s Palsy diduga disebabkan oleh faktor lain, seperti hipertensi atau pre-eclampsia, karena Bell’s Palsy juga ditemukan pada beberapa pasien hamil dengan pre-eclampsia.

Hingga saat ini, belum ada tata laksana khusus untuk terapi wanita hamil dengan Bell’s Palsy. Penanganan pertama yang terpenting pada Bell’s Palsy adalah menjaga kesehatan mata dikarenakan kondisi kornea yang cenderung kering. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan obat tetes mata untuk lubrikasi. Terapi pada fase akhir lebih difokuskan pada pengembalian fungsi estetika, meskipun jarang diperlukan karena Bell’s Palsy cenderung sembuh spontan.

Perihal keamanan penggunaan obat pada pasien hamil dengan Bell’s Palsy, yaitu kortikosteroid dan antivirus, masih bersifat pro dan kontra. Jika Anda memiliki keluarga atau rekan yang sedang hamil dan mengalami Bell’s Palsy, konsultasi terintegrasi dengan dokter kandungan dan neurolog sangat diperlukan untuk mendapatkan penanganan dan evaluasi yang tepat. (MHW)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY