Risiko Mengandung di Usia Remaja

0
3
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Usia kehamilan seseorang bervariasi. Ada yang dalam usia matang atau telah dewasa. Sebagian calon ibu lainnya malah ada yang masih tergolong remaja. Padahal, hamil di usia remaja memiliki sejumlah risiko.

Bila dibandingkan dengan wanita hamil di usia 20–30 tahun, hamil dan melahirkan di bawah usia 18 tahun memang jauh lebih berisiko. Apa saja risiko tersebut?

  • Tekanan darah tinggi

Wanita yang hamil saat remaja atau usia yang sangat muda lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi dibanding wanita yang hamil pada usia di atas 20-an. Dari segi medis, sel telur pada wanita yang masih sangat muda belum kuat dan matang betul untuk mengalami kehamilan. Kondisi ini akan menyebabkan tekanan darah wanita yang mengalami kehamilan pada usia mudah ini akan meningkat. Hipertensi atau tekanan darah tinggi ini akan berdampak sangat banyak terutama ketika seseorang sedang mengalami kehamilan. Hipertensi, misalnya, dapat menyebabkan seseorang mengalami pusing hingga pendarahan pada saat kehamilan.

  • Meningkatkan potensi terkena kanker serviks

Beberapa penelitian menyebutkan, semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seksual, maka dapat meningkatkan risiko wanita tersebut mengalami kanker leher rahim atau kanker serviks.

  • Kematian ibu dan bayi

Makin muda remaja perempuan hamil, maka makin berisiko bagi persalinan dan anak yang dikandungnya. Hal ini karena tubuh si calon ibu secara umum belum siap untuk menjalani proses persalinan, seperti panggul mereka yang masih belum lebar.

  • Kelahiran prematur

Bayi yang lahir sebelum usia 38 minggu disebut prematur. Rongga dan tulang panggul si calon ibu yang masih remaja belumlah sempurna untuk persalinan. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah dalam persalinan, seperti kelahiran prematur. Kelahiran prematur mempunyai dampak terhadap gangguan pernafasan, penglihatan, kognitif, infeksi dan banyak masalah lainnya.

  • Bayi kekurangan berat badan

Kelahiran prematur bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan di bawah normal. Hal ini disebabkan janin kekurangan waktu untuk tumbuh optimal dalam rahim. Untuk beberapa kasus, bayi membutuhkan perawatan khusus di unit perawatan neonatal (NICU) di rumah sakit setelah kelahiran.

  • Depresi

Depresi pascamelahirkan bisa menghinggapi ibu yang berusia remaja. Hal ini bisa bersumber dari perasaan tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga atau pasangan. Tak hanya itu, tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk juga bisa tertuju kepada remaja perempuan yang hamil. Tekanan itu bisa berupa desakan untuk menggugurkan kandungan, ketakutan akan penghakiman dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial mengurus bayi di masa depan. Berbagai tekanan ini bisa membuat depresi. Depresi berisiko membuat remaja tidak mampu merawat bayinya dengan baik. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY