Risiko Penggumpalan Darah Pada Kehamilan

SehatFresh.com – Penggumpalan darah pada wanita hamil bisa terjadi karena meningkatnya hormon estrogen, mengalami obesitas, atau memiliki penyakit paru-paru dan jantung. Namun, setelah melahirkan secara perlahan hormon akan kembali stabil, sehingga risiko penggumpalan darah pun menurun. Gumpalan darah yang terbentuk di vena dalam pada kaki dikenal sebagai deep-vein thrombosis (DVT). Ini adalah salah satu kondisi yang rentan dialami ibu hamil.

Gejala dari DVT termasuk rasa sakit, nyeri dan pembengkakan kaki serta kemerahan atau warna kulit kebiruan. Wanita hamil juga mengalami peningkatan risiko untuk emboli paru, suatu kondisi yang mengancam jiwa yang terjadi ketika gumpalan darah beredar dan memasuki paru-paru. Seorang wanita yang menderita emboli paru mungkin mengalami sesak napas, nyeri dada dan batuk yang menyebabkan keluarnya dahak dengan darah.

Ketika seorang wanita sedang hamil, aliran darah berkurang secara signifikan pada vena yang membawa darah dari kaki ke jantung. Hal ini terjadi karena berat janin menekan pembuluh darah di panggul. Perubahan juga terjadi pada darah itu sendiri, termasuk dalam cara darah membeku. Sejumlah ahli percaya bahwa perubahan dalam pembekuan ini darah pada dasarnya terjadi untuk mengurangi pendarahan saat melahirkan tapi secara tidak sengaja meningkatkan peluang seorang wanita terjadinya pembekuan darah yang bisa berisiko.

Beberapa wanita hamil mungkin berisiko lebih besar untuk pembekuan darah. Wanita yang memiliki riwayat keluarga pembekuan darah, ibu hamil usia di atas 35 tahun, ibu hamil yang dulunya perokok atau ibu hamil yang kelebihan berat badan secara signifikan memiliki kemungkinan peningkatan pembekuan darah. Ketika dokter mengharuskan ibu hamil untuk bed rest atau ketika ibu hamil telah melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat atau mobil, maka ia lebih berisiko mengalami penggumpalan darah berlebih.

Ketika dokter mendiagnosis wanita hamil dengan gumpalan darah seperti DVT, ia biasanya akan mengobatinya dengan cara yang sama seperti pasien yang tidak hamil, yaitu dengan obat Heparin. Heparin tidak memecah gumpalan tapi mencegah gumpalan berlebih dan memberikan waktu pada tubuh untuk melarutkan bekuan. Pasien mungkin menerima heparin intravena atau melalui suntikan.

Tercatat, kasus gumpalan darah memengaruhi sekitar satu atau dua kehamilan tiap 1.000 kehamilan. Meski terbilang jarang, gumpalan darah adalah penyebab utama kematian pada ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan di negara berkembang. Pada wanita yang baru melahirkan dan mengalami obesitas, maka risikonya meningkat hingga empat kali lipat. Risiko akan meningkat dua kali lebih tinggi dari normal pada ibu yang melahirkan secara caesar, kelahiran prematur, mengalami banyak perdarahan dalam kehamilan atau sudah melahirkan tiga kali atau lebih.

Sumber gambar : klorofil-merah.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY