Sejarah dan Asal Mula Film Dewasa di Jepang

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Jepang adalah salah satu negara yang memberikan jaminan terhadap industri film dewasa. Seiring dengan pesatnya industri film dewasa di Jepang, produk-pruduknya juga merambah hingga ke berbagai negara di dunia. Lantas bagaimana sejarah dan asal mula film dewasa di Jepang?

Adegan-adegan dewasa di Jepang, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pasalnya adegan-adegan tersebut sudah dimulai sejak zaman Edo (1603-1886). Hanya saja ketika itu bentuknya masih lukisan-lukisan yang berbau erotis atau seksual, yang disebut Shunga.

Misalnya saja salah hasil lukisan yang cukup terkenal adalah “The Dream of Fisherman’s Wife” yang merupakan karya Hokusai. Kemudian seiring perubahan zaman dan berkembangnya teknologi, cerita dalam lukisan tersebut akhirnya dideskripsikan dalam bentuk visual.

Hingga akhirnya pada kisaran tahun 1960an, muncullah beberapa industri film dewasa di Jepang. Di antaranya Nikkatsu, Daiei, Shochiku, Toho, dan Toei. Namun saat itu film yang diterbitkan hanya berfokus pada cerita atau drama.

Tujuannya untuk merangsang penonton dengan sedikit menunjukan ketelanjangan atau adegan seks. Oleh masyarakat Jepang film-film dewasa itu dikenal dengan istilah “Pink Film”. Lantas kapan industri film dewasa Jepang mulai menggeliat?

Tepatnya pada tahun 1970an, ketika film-film impor khususnya dari Amerika mulai masuk ke Jepang. Akibat banyaknya film-film dari luar negeri, industri film dewasa di Jepang mulai memodifikasi “pink film” sebagai strategi untuk menarik minat penonton.

Terobosan baru terjadi pada bulan November 1971, ketika studio Nikkatsu merilis dua seri film dewasa. Dalam film tersebut adegan seks yang ditampilkan lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Seiring berjalannya waktu industri film dewasa di Jepang mengalami perkembangan pesat.

Keberhasilan studio film Nikkatsu dalam mengemas adegan panas yang menarik minat penonton di Jepang, kemudian disusul oleh produsen-produsen lainnya untuk memproduksi film-film dewasa. Dengan kultur masyarakat Jepang yang menganggap bahwa kesukaan pada seks adalah sesuatu yang normal, ternyata ikut mendorong perkembangan industri ini.

Guna memberikan variasi terhadap adegan-adegan panas, film dewasa di Jepang akhirnya memanfaatkan alat bantu seks. Dengan alat bantu seks tersebut, produsen film di Jepang berhasil memainkan adrenalin para penonton sehingga lebih meninggalkan kesan.

Perkembangan industri film dewasa di Jepang akhirnya direspon oleh para pakar hukum untuk membentuk organisasi yang memonitor produksi fil dewasa tersebut. Pada tahun 1972, organisasi itu terbentuk dan dikenal dengan The Ethics of Adult Video.

Kemudian pada tahun 1977, lembaga itu berganti nama menjadi Nihon Ethics of Video Assosiation (NEVA). Secara umum fungsi dari NEVA hampir sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yakni berwenang untuk melakukan sensor.

Kini meskipun industri film dewasa di Jepang telah legal dan dilindungi pemerintah, namun berbagai praktik kecurangan tetap saja muncul. Di antaranya adalah kelompok-kelompok tertentu yang memproduksi dan menampilkan adegan seksual tanpa melalui NEVA, sehingga tidak melalui proses sensor. (APY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here