Seks Dalam Perspektif Sejarah dan Budaya Masyarakat Jawa

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa falsafah Jawa memiliki nilai-nilai kearifan lokal tentang kehidupan, tidak terkecuali mengenai seks. Hubungan intim dalam filosofi Jawa adalah sesuatu yang sakral, luhur, sekaligus mempunyai fungsi dalam menjaga keharmonisan manusia. Lantas bagaimana gambaran masyarakat Jawa mengenai seks?

Simbol seksualitas masyarakat Jawa

Seksualitas masyarakat Jawa sangat berkaitan dengan proses tingkat kedewasaan biologisnya. Meskipun seks jarang diperbincangkan secara terbuka di tempat umum, namun bukan berarti masyarakat Jawa benar-benar tidak mengetahui tentang seks.

Orang Jawa mempunyai simbol seksualitas berupa lingga yoni. Lingga merupakan lambang penis (falus), yakni alat kelamin pria. Sementara Yoni merupakan lambang vagina, yakni alat kelamin wanita. Simbol-simbol tersebut telah lama digunakan masyarakat Jawa sebagai penghalusan dari hal yang dianggap tabu.

Konsep lingga yoni

Kehadiran manusia dalam kosmologi Jawa berawal dari tirta sinduretna yang keluar ketika lingga yoni bertemu. Kemudian tumbuh menjadi janin yang dikandung di dalam gua garba. Tirta sinduretna adalah lambang air mani (sperma) pada laki-laki, sementara gua garba melambangkan fungsi rahim dari seorang perempuan.

Proses pembuahan tersebut disimbolkan dalam kalimat yang cukup populer di kesusastraan Jawa yakni: bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alubengkong. Makna kalimat tersebut secara harfiah berarti “sejenis sambal yang dibungkus daun asam, lantas diberi lidi alu bengkong”.

Bothok bantheng sendiri bisa diartikan sperma, sedangkan godhong asem bisa diartikan kemaluan wanita. Sementara alu bengkong merupakan simbol dari alat kelamin laki-laki. Disimpulkan bahwa asal-usul manusia itu berawal dari sperma yang kemudian membuahi sel telur wanita yang terjadi ketika proses hubungan seksual.

Aktivitas seksual memiliki arti mendalam bagi masyarakat Jawa

Bagi masyarakat Jawa keharmonisan memiliki aroma kenikmatan yang tinggi, apabila menggunakan seluruh kemampuan untuk mengekspresikan kepuasan. Hubungan seksual yang seperti itu merupakan aktivitas seks yang sesungguhnya, karena memberikan kesan yang sangat mendalam.

Aktivitas seksual sangat memberikan nilai bagi keharmonisan hidup masyarakat Jawa. Hubungan seksual apabila didasari rasa cinta kasih dengan pasangan, bisa menjadi sarana pemenuhan spiritual. Hal seperti itu mungkin akan lebih mudah dipahami, jika dihubungkan dengan kacamata keagamaan.

Aktivitas seksual merupakan darma kepada pasangan

Jika mengacu pada kitab-kitab Jawa klasik, dalam hubungan intim unsur pria merupakan sarana untuk mencapai kebenaran yang agung. Sementara unsur wanita adalah kemahiran atau prajna yang membebaskan. Dengan demikian dipahami bahwa hubungan seksual merupakan darma suami kepada istri.

Ritual seks tersebut ditunjukan untuk pasangan suami-istri atau sebuah pasangan yang tetap. Latihan dalam memahami falsafah seksual ini membutuhkan ketenangan batin, kesungguhan hati, hingga sakralitas. Pasalnya bagi masyarakat Jawa seks adalah ritual sakral yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang telah memiliki ikatan melalui janji suci pernikahan. (APY)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY