Seksualitas Serat Centhini, Apa Itu?

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Masa lalu tidak selamanya tidak relevan dengan masa kini. Termasuk soal seksualitas. Nan jauh di masa lampau, di tanah Jawa pada awal abad ke-19 muncul sebuah karya sastra yang terkenal hingga kini, yaitu Serat Centhini.

Serat Centhini memiliki nama resmi Suluk Tembangraras. Serat ini diubah pada sekitar tahun 1815. Serat Centhini yang terdiri atas kurang-lebih 700 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang membahas soal seks.

Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam bukunya Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang dibayangkan.

Isu seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari. Dalam Serat Centhini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Lebih lajut, masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus.

“Misalnya, menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, gaya persetubuhan dan lain-lain,” ungkap Sukatno.

Bahkan, seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan kenikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme. Sukatno memberi contoh, dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal ‘ulah asmara’ yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Salah satu contoh konkretnya ialah cara membuka atau mempercepat orgasme bagi wanita serta mencegah pria tidak cepat ejakulasi.

Lalu, dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat wanita dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

Ritual seks lain juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam bercinta pasangan suami-istri. Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Terungkap juga, ternyata wanita tidak selamanya bersikap lugu atau pasif soal ‘urusan ranjang’. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya.

Lebih dari sekadar kitab tentang seks, Serat Centhini dijuluki pula sebagai ensiklopedi budaya Jawa karena sebagian isinya memang mengungkapkan wacana dan praksis budaya Jawa yang dipadu dengan ajaran Islam.

Singkatnya, Serat Centhini merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu.

Disampaikan dalam bentuk tembang, penulisan Serat Centhini dikelompokkan menurut jenis lagunya. Justru karena keberagaman dan cara penyampaian inilah, Serat Centhini menjadi termasyhur hingga luar negeri. Tak heran, beberapa penulis dalam dan luar negeri pernah membuat buku atau novel berdasarkan serat ini. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY