Sikap Tepat Hadapi Anak yang Keranjingan Menonton Vlog Gaya Hidup Bebas

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Akrabnya teknologi dengan kehidupan remaja memungkinkan mereka dapat melihat konten apa saja yang tersebar di internet. Padahal, belum tentu konten itu baik untuk mereka. Salah satunya adalah video blog (vlog) tentang kehidupan bebas remaja.

Vlog memang sedang nge-tren, terutama di kalangan remaja. Sudah cukup banyak blogger yang mengunggah video di blog-nya. Sayangnya, beberapa konten tersebut memperlihatkan gaya hidup bebas yang memiliki definisi berbeda oleh sebagian remaja.

Mandiri, bebas berperilaku semau gue, bahkan bisa mendapatkan penghasilan sendiri oleh sebagian remaja dianggap cool. Belum lagi, sikap cool tersebut diiringi dengan perilaku merokok, minum alkohol, bertato, dan gemar berpesta di media sosial.

Bila meminjam istilah grup rapper Young Lex, fenomena ini disebut ‘generasi swag’ yang merebak sekarang. Apa pula itu swag? Secara etimologis, swag berarti ‘barang curian’. Tetapi, swag dalam istilah gaul diartikan sebagai ‘keren’.

Masa remaja adalah masa pencarian identitas. Sementara itu, gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, opini, dan cara berpikirnya.

Merebaknya vlog tak terlepas dari krisis idola di kalangan remaja. Tak sedikit remaja belia yang berprestasi. Namun, sering kali nama mereka luput dari viral media sosial. Hal ini karena bukan ketenaran yang menjadi tujuan mereka.

Masa remaja adalah masa seseorang mencari seorang idola atau tokoh identifikasi yang bisa dijadikan panutan, baik dalam pencarian gaya hidup, gaya bicara, penampilan dan lain-lain demi mendapatkan status di dalam pergaulannya. Imbasnya, banyak dijumpai remaja dengan berbagai atributnya yang sebenarnya mereka hanya meniru.

Para ‘bintang muda’ yang digandrungi ternyata mampu mengubah gaya hidup remaja. Siapapun yang tak terpengaruh dengan gaya hidup bebas akan mendapat stigmatisasi “tidak gaul dan tidak funky‟.

Psikolog anak-anak dan keluarga dari Universitas Indonesia Alia Mufida mengatakan, vlog bisa dijadikan contoh negatif.

“Kalau sudah dilihat (video tersebut), itu adalah teaching moment untuk mengajarkan baik dan buruk itu seperti apa. Kalau anaknya belum lihat, jangan lihat. Tapi, tetap disampaikan, ada area-area di internet yang tidak perlu dilihat,” kata Fida.

Terkadang, dia melanjutkan, saat menasihati anak, diperlukan contoh hal-hal negatif tersebut agar tidak ditiru. Fida menuturkan, orangtua mungkin mengetahui video tersebut dapat memberikan pengaruh negatif kepada anak. Namun, jika memarahi saja berarti orangtua kehilangan kontrol.

“Yang penting orangtua tahu bahwa anak menontonnya. Kemudian, orangtua dapat bertanya kepada anak, bagaimana pendapat anak soal video yang ditontonnya dan bagaimana seharusnya? Apalagi remaja biasanya sudah bisa berpendapat,” ujar Fida.

Oleh sebab itu, pengawasan dari orangtua diperlukan untuk membentengi anak-anaknya yang masih remaja dari terpaan negatif konten internet, termasuk vlog. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here