Susu Murni Rentan Kontaminasi Bakteri

SehatFresh.com – Susu murni adalah susu yang tidak dipasteurisasi, yang diambil langsung dari sapi atau kambing yang kemudian didinginkan dan dikonsumsi. Susu dan produk susu memang menyediakan zat gizi yang sangat baik. Namun, ada kalanya susu menjadi rentan terkontaminasi bakteri sehingga berpotensi menyebabkan keracunan.

Susu murni yang tidak melalui proses pasteurisasi dinilai rentan terkontaminasi kuman dan bakteri sehingga bisa berisiko bagi kesehatan. Pasteurisasi adalah proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri dan virus. Proses yang ditemukan Louis Pasteur tahun 1864 ini, dapat mematikan kuman-kuman penyakit listeriosis, demam tifoid (tifus), tuberkulosis, difteri dan lainnya. Pasteurisasi sudah lebih dari 100 tahun digunakan untuk mengolah susu agar aman dikonsumsi.

Menurut analisis yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), antara tahun 1993 dan 2006 di Amerika Serikat telah ditemukan lebih dari 1500 orang yang sakit keracunan akibat mengonsumsi susu murni atau keju dari susu murni. Menurut CDC, susu yang tidak melewati proses pasteurisasi berisiko 150 kali lebih tinggi menyebabkan keracunan dibandingkan susu yang telah dipasteurisasi.

Kasus keracunan susu murni yang terkontaminasi bakteri telah sering terjadi di Indonesia. Susu non-pasteurisasi berisiko terkontaminasi bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. Coli, dan Listeria. Risiko menjadi lebih tinggi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti mereka yang lanjut usia, wanita hamil dan anak-anak. Secara umum, kasus keracunan susu murni yang terkontaminasi bakteri lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja. Gejala keracunan susu yang paling umum adalah mual dan muntah, diare, serta nyeri perut. Beberapa mungkin mengalami gejala disertai gejala seperti flu yaitu demam, sakit kepala, dan rasa nyeri di sekujur tubuh. Wanita hamil perlu ekstra hati-hati. Pasalnya, keracunan susu akibat kontaminasi bakteri Listeria dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau bayi lahir mati.

CDC juga menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan nilai gizi yang “berarti” antara susu murni dengan susu pasteurisasi. Namun, susu pasteurisasi juga masih mengandung bakteri non-patogen dalam kadar rendah, sehingga susu perlu disimpan pada lemari pendingin terutama setelah kemasannya dibuka.

Mana yang lebih baik ?
Para pendukung susu murni menolak jika susu murni dianggap berbahaya. Mereka beranggapan bahwa susu pasteurisasi tidak lebih baik dari susu murni karena sudah berubah secara kimiawi. Aktivitas enzim pada susu menjadi sangat rendah akibat proses pasteurisasi, sehingga lebih sulit dicerna. Kandungan lemak, vitamin dan mineral di dalamnya pun menjadi lebih sulit diserap. Selain itu, bakteri baik yang terkandung di dalam susu juga ikut mati.

Menurut Dr. Ed Zimney, MD, dalam everydayhealth.com, tidak ada salahnya sesekali meminum susu murni yang tidak dipasteurisasi. Susu pasteurisasi maupun susu murni memang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Pilihannya ada ditangan Anda sendiri. Sebagai acuan, menurut Center for Disease Control and Prevention, ada beberapa kelompok yang disarankan untuk menghindari susu murni atau produk susu mentah lainnya, yaitu ibu hamil, anak yang berusia di bawah 5 tahun, orang lanjut usia, orang yang terinfeksi HIV, penderita kanker dan orang dengan “immunocompromised”, (salah satunya orang yang melakukan transplantasi organ tubuh).

Sumber gambar : rockmilk-rockmilk.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY