Tanda dan Perilaku yang Menyertai Perkembangan Seksualitas Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sebelum menjadi orang dewasa, anak-anak akan melalui masa transisi yang kompleks, kita sering menyebutnya pubertas. Di masa tersebut, remaja akan mengalami perkembangan seksualitas yang tak hanya mencakup perkembangan fisik, tapi juga perkembangan kognitif, emosional, sosial dan moral. Setiap yang anak pikir, pelajari dan rasakan terkait perkembangan seksualitas ini akan membentuk sikap dan perilaku seksualnya ketika dewasa kelak. Karenanya, orangtua perlu memahami dan membantu anak-anak dalam menghadapi perubahan yang mereka alami agar proses perkembangan seksual ini berjalan secara sehat.

Remaja mulai mengalami pematangan seksual (pubertas) di usia yang berbeda-beda tergantung pada faktor genetik dan lingkungan. Terlepas dari usia berapa pubertas dimulai, proses pematangan seksual remaja secara fisik terjadi dalam urutan yang sama.

Pertumbuhan payudara adalah tanda pematangan seksual pertama pada anak perempuan. Tanda ini kemudian diikuti ledakan pertumbuhan, yang biasa terjadi pada usia antara 9-14 tahun. Tak lama setelhnya, rambut pada kemaluan dan ketiak muncul. Menstruasi biasanya dimulai sekitar 2 tahun setelah dimulainya pertumbuhan payudara dan ketika peningkatan tinggi badan melambat setelah melewati puncaknya.

Sedangkan pada anak laki-laki, dimulainya pematangan seksual ditandai pembesaran skrotum dan testis, diikuti perpanjangan penis dan munculnya rambut pada kemaluan. Rambut halus pada wajah dan ketiak akan muncul sekitar 2 tahun setelah rambut kemaluan. Lonjakan pertumbuhan biasanya dimulai setahun setelah testis mulai membesar, antara usia 12-17 tahun.

Di awal pubertas, anak laki-laki akan mulai sering mengalami ereksi dan ini adalah respons normal tubuh terhadap hasrat seksual. Ereksi juga dapat terjadi secara spontan tanpa alasan yang jelas karena tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan kimia dan fluktuasi hormonal yang menyertai pubertas. Demikian pula dengan anak perempuan di mana mulai terjadi sekresi vagina karena rangsangan seksual atau fluktuasi hormonal normal selama siklus menstruasi.

Perkembangan seksualitas remaja juga ditandai tumbuhnya ketertarikan terhadap seks dan lawan jenis. Rasa ingin tahu yang besar dan dorongan seksual dalam diri dapat membuat remaja mulai mencari informasi tentang hubungan seksual dengan lawan jenisnya, seperti menonton film dewasa atau membaca cerita-cerita vulgar.

Seringnya mengalami ereksi dapat mendorong remaja laki-laki bereksperimen melakukan masturbasi. Karena kenikmatan seksual adalah pengalaman baru, remaja laki-laki mungkin ingin melakukan masturbasi lebih sering. Pada remaja perempuan, indikator gairah seksualnya tak terlihat jelas seperti ereksi pada laki-laki. Tapi, tak sedikit remaja perempuan yang juga menonton film dewasa hingga masturbasi. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, remaja dapat dengan mudah menemukan hal-hal berbau pornografi dari internet.

Membekali anak dengan pendidikan seks yang memadai sejak dini dapat membantu anak melewati proses perkembangan seksualitasnya. Pendidikan seks jangan hanya diserahkan pada guru di sekolah. Penting bagi orangtua untuk memberi anak edukasi seks di rumah melalui komunikasi berkelanjutan. Dengan begitu, anak tidak akan mendapat pemahaman seksualitas yang salah. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here