Terapi Untuk Pengidap Kelainan Seksual Pedofilia

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kekerasan dan kejahatan seksual pada anak-anak kian marak diberitakan di berbagai media. Kebanyakan pelakunya adalah orang dewasa yang ternyata memiliki parafilia. Parafilia adalah suatu kondisi di mana gairah dan kepuasaan seksual seseorang tergantung pada fantasi dan keterlibatan dalam perilaku seksual yang tidak lazim dan ekstrim. Salah satu bentuk parafilia yang semakin akrab terdengar di telinga kita adalah kelainan seksual yang disebut pedofilia.

Pedofilia didefinisikan sebagai fantasi atau aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak praremaja. Pedofil biasanya adalah seorang pria. Pelaku seringkali tertarik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Kebanyakan pelaku menipu dirinya sendiri dengan berkeyakinan bahwa tindakan yang mereka lakukan berkontribusi untuk perkembangan anak atau pelaku mengatakan bahwa anak yang menjadi korban juga menikmati apa yang ia lakukan. Namun, pelaku memberitahu atau mengancam korban agar tidak memberitahu orangtuanya.

Gejala terkait pedofilia dapat dikenali dari hal-hal berikut ini:

  • Fantasi, dorongan atau perilaku seksual yang intens yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak praremaja (umumnya anak berusia dibawah 13 tahun) untuk jangka waktu minimal enam
  • Gangguan yang dimiliki pelaku menyebabkan kesulitan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau aspek kehidupan penting lainnya.
  • Pelaku setidaknya berusia 16 tahun dan setidaknya lima tahun lebih tua dari usia anak yang menjadi korban.

Apakah para pedofil hanya menyukai anak-anak?

Sejumlah pengidap pedofilia mungkin menunjukkan ketertarikan mereka pada orang dewasa seumurannya. Tapi, sulit untuk mengetahui presentase pastinya. Pasalnya, sebagian besar penelitan mengenai pedofilia berdasar pada penangkapan pelaku pedofilia karena pelanggaran seksual terhadap anak-anak. Pelaku mungkin hanya membesar-besarkan minat seksual mereka pada orang dewasa agar tampak normal.

Dapatkah pedofilia disembuhkan?

Meskipun masih banyak ahli yang meragukannya, tetapi terapi dapat membantu pengidap pedofilia mengendalikan perasaan dan hasrat seksualnya, serta mengalihkan pikirannya dari aktivitas seksual yang tidak wajar. Kombinasi terapi obat dengan terapi perilaku kognitif dianggap sebagai bentuk pengobatan yang paling efektif untuk pengidap pedofilia.

Obat hormon seperti medroxyprogesterone acetate (Depo-Provera) dan cyproterone acetate sering digunakan untuk menurunkan tingkat sirkulasi testosteron sehingga mengurangi gairah seks dan agresivitas pasien. Obat tersebut mengakibatkan pengurangan frekuensi ereksi, fantasi seksual dan inisiasi dari perilaku seksual termasuk masturbasi dan hubungan seksual. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa tingkat gairah seks tidak secara konsisten terkait dengan perilaku parafilia dan kadar testosteron sebagai hormon seks utama pria tidak berkaitan dengan parafilia. Obat lain, yaitu antidepresan seperti fluoxetine (Prozac) juga sering digunakan untuk menurunkan dorongan seksual tetapi tidak efektif dalam menurunkan fantasi seksual. Oleh karenanya, obat-obatan biasanya dikombinasikan dengan terapi perilaku kognitif.

Penelitian menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif dapat secara efektif membantu pengidap pedofilia mengendalikan fantasi dan hasrat seksualnya. Terapi ini meliputi restrukturisasi penyimpangan kognitif dan pelatihan empati. Restrukturisasi penyimpangan kognitif melibatkan pembenahan pikiran seorang pedofilia yang mempercayai bahwa anak yang menjadi korbannya ingin terlibat dalam aktivitas seksual yang ia inginkan. Sedangkan pelatihan empati ditujukan untuk membantu mengoreksi perspektif pengidap pedofilia pada korbannya serta membuat pengidap pedofilia memahami dan menyadari bahaya atas tindakan yang ia lakukan.

Sulit untuk menentukan akan seberapa baik prognosis para pengidap parafilia. Terkait pedofilia, fantasi seksual terhadap anak-anak yang ada di benak pasien bisa sangat sulit untuk diubah, terutama bila pasien tidak dapat diajak bekerja sama dalam pengobatan. Terapi dapat secara efektif membantu mengurangi intensitas fantasi pedofilia dan mengembangkan strategi pemecahan masalah asalkan pasien bersedia mengakui bahwa memang ada masalah dalam dirinya dan bersedia pula berpartisipasi dalam pengobatan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY