Tes Anticardiolipin Antibody pada Ibu Hamil

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehamilan tentunya merupakan momen yang paling menegangkan sekaligus membahagiakan bagi para orangtua. Agar senantiasa sehat, para ibu hamil jangan sampai melewatkan jadwal pemeriksaan kehamilannya. Ibu hamil akan menjalani sejumlah tes ketika melakukan pemeriksaan kehamilan rutin. Yang paling sering adalah USG untuk mengetahui aktivitas janin dan mendeteksi adanya berbagai masalah atau kelainan yang dapat mengganggu tumbuh kembang janin.

Menyambung bahasan mengenai pemeriksaan kehamilan, tes untuk pemeriksaan kesehatan kehamilan tak hanya USG saja. Sebetulnya, ada beberapa tes lain yang juga penting untuk mengantisipasi atau memastikan diagnosis berbagai masalah pada ibu hamil dan janin dalam kandungan. Salah satunya tes anticardiolipin antibody yang digunakan untuk mengukur kekentalan darah.

Dalam mengukur kekentalan darah, tes anticardiolipin antibody dilakukan untuk mengetahui kadar sejumlah antibodi cardiolipin yang meliputi IgG (immunoglobulin G), IgA (immunoglobulin A), dan IgM (immunoglobulin M). Ketiga antibodi tersebut merupakan antibodi yang terbentuk sebagai respon terhadap cardiolipin (sejenis lemak dalam darah).

Antibodi cardiolipin sendiri termasuk ke dalam antibodi antifosfolipid yang berdampak mengurangi kadar annexin V. Selain mengikat fosfolipid, annexin V juga merupakan protein yang memiliki sifat antikoagulan. Dengan demikian, penurunan kadar annexin V diyakini sebagai mekanisme yang meningkatkan kemungkinan pembekuan darah dan memicu keguguran pada ibu hamil, yang mana kondisi-kondisi tersebut menjadi karakteristik sindrom antifosfolipid. Selain annexin V, antibodi cardiolipin juga dikaitkan dengan penurunan tingkat prostasiklin, yakni zat kimia yang bekerja sama dengan trombosit untuk mengurangi pembekuan darah.

Dokter kandungan biasanya menyarankan untuk menjalani tes anticardiolipin antibody jika ibu hamil sering mengalami pendarahan abnormal dan memiliki riwayat keguguran. Selain itu, pengukuran anticardiolipin antibody juga biasanya dilakukan ketika ibu hamil mengeluhkan gejala-gejala pembekuan darah darah, terutama jika terjadi berulang atau terus-menerus.

Jika terjadi pembekuan darah pada pembuluh darah bagian dalam pada kaki (deep vein thrombosis), ibu hamil mungkin mengalami gejala, seperti nyeri kaki, kaki bengkak (edema), dan perubahan warna kaki. Sedangkan jika pembekuan darah terjadi di paru-paru (emboli paru), ibu hamil mungkin mengalami gejala, seperti sesak napas mendadak, batuk berdahak dan berdarah, nyeri dada, dan detak jantung cepat.

Jika hasil tes negatif, itu berarti antibodi cardiolipin tidak ada atau kadarnya belum pada tingkat yang terdeteksi ketika tes dilakukan. Mereka dengan hasil tes negatif biasanya disarankan untuk melakukan tes ulang pada interval tertentu. Sedangkan jika hasilnya positif, tes biasanya diulang sekitar 6 minggu kemudian guna mendapat hasil yang akurat. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here