Tiga Faktor yang Berkontribusi Terhadap Alkoholisme

SehatFresh.com – Minum alkohol telah menjadi gaya hidup di berbagai kalangan tertentu. Alkohol bisa menyebabkan ketergantungan fisik maupun psikis. Ini merujuk pada kondisi yang disebut alkoholisme. Penyebab seseorang menjadi pecandu alkohol belum diketahui secara pasti. Alkoholisme lebih sering diderita para anak-anak dari pecandu daripada anak-anak yang diadopsi. Ini seolah memperlihatkan bahwa alkoholisme melibatkan kelainan genetik atau biokimia tubuh. Latar belakang dan kepribadian tertentu juga dapat menjadi faktor pendukung seseorang menjadi pecandu alkohol.

Sebuah lembaga di Amerika Serikat, Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) melaporkan bahwa alkoholisme adalah penyakit yang ditandai dengan empat gejala utama, yaitu keinginan, kehilangan kontrol, ketergantungan fisik dan toleransi yang tinggi terhadap dampak alkohol. Alkoholisme adalah penyakit kronis, yang berarti berefek jangka panjang dan tidak dapat disembuhkan dengan mudah. Baru-baru ini, penelitian terbaru telah mengidentifikasi faktor-faktor tertentu yang berkontribusi terhadap alkoholisme. Faktor-faktor yang sangat mungkin berkontribusi adalah :

  1. Faktor genetika

NIAAA melaporkan bahwa gen tertentu diyakini berkontribusi menyebabkan seseorang untuk menjadi seorang pecandu alkohol. Gen diwariskan dari orangtua ke anak. Sama halnya dengan penyakit lainnya yang memiliki komponen genetik, alkoholisme juga tampaknya mengikuti pola ini. Sebagai contoh, jika ayah, paman atau nenek Anda adalah pecandu alkohol, ada kemungkinan lebih besar Anda akan menjadi alkohol. Namun, ini tidak serta merta menjadikan seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan alkoholisme pasti akan menjadi seorang pecandu alkohol.

  1. Faktor sosial

Ada beberapa faktor sosial yang dapat memengaruhi seseorang mengembangkan alkoholisme. Kebiasaan minum alkohol lebih umum di antara kelompok orang tertentu. Penyalahgunaan alkohol jangka panjang juga faktor risiko lain untuk mengembangkan alkoholisme.

  1. Faktor psikologis

Menurut Mayo Clinic, faktor psikologis tertentu dapat berkontribusi terhadap pengembangan alkoholisme. Faktor-faktor ini meliputi stres atau tingkat kecemasan yang tinggi, rasa sakit emosional, rendah diri dan depresi. Minum dalam keadaan ini seringakali dijadikan sebagai cara untuk “mengobati diri sendiri,” karena orang tersebut menyalahgunakan alkohol untuk “mengobati” rasa sakit emosional dan psikologis yang mereka alami. Memiliki masalah-masalah psikologis membuat seseorang lebih mungkin untuk menjadi seorang pecandu alkohol, tetapi tidak selalu berarti bahwa orang tersebut pasti akan menjadi seorang pecandu alkohol.

Sumber gambar : www.sehatfresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY