Tingginya Angka Pernikahan Dini di Indonesia

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Merujuk pada ketentuan yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, batasan usia minimal untuk menikah di Indonesia adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Karenanya, menikah di bawah batas usia tersebut termasuk ke dalam pernikahan dini. Belakangan ini, kampanye bagi pasangan menikah dini untuk menunda kehamilan mulai digencarkan. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Tingginya angka pernikahan dini di Indonesia ternyata menjadi sorotan lembaga internasional, seperti WHO dan UNICEF.

Menurut hasil studi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) tahun 2014, 46 persen (2,5 juta) pernikahan di Indonesia, mempelai perempuannya masih berusia 15-19 tahun. Bahkan, 5% dari jumlah tersebut merupakan mempelai perempuan yang usianya belum 15 tahun.

Tingginya angka pernikahan dini di Indonesia tentunya tak lepas dari faktor kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak negatif yang bisa ditimbulkan. Padahal, zaman sudah semakin maju. Namun, di beberapa daerah, pernikahan dini ini seolah telah menjadi tradisi. Terlebih di daerah yang ekonomi penduduknya menengah bawah dan banyak yang putus sekolah.

Di sisi lain, peningkatan angka pernikahan dini juga disebabkan oleh pergaulan bebas yang berkaitan dengan maraknya perilaku seks bebas di kalangan remaja. Hal ini seringkali membuat para orangtua terpaksa menikahkan putera-puterinya di usianya yang masih muda.

Angka pernikahan dini yang tinggi menjadi salah satu alasan maraknya kasus perceraian di Indonesia. Begitu pula dengan tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ini bisa terjadi karena kesiapan mental yang belum matang. Lebih dari itu, menikah usia dini juga menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi karena melahirkan di usia muda. Saat hamil, perempuan usia muda menjadi lebih berisiko kekurangan gizi, keguguran, melahirkan bayi cacat, dan yang paling fatal adalah kematian saat persalinan. Dalam hal ini, tentu perempuan sangat dirugikan. Sistem reproduksi yang belum siap juga bisa menyebabkan trauma seks berkelanjutan dan meningkatkan risiko mengidap kanker serviks.

Dari perspektif pendidikan, pernikahan dini dapat menghalangi anak untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hanya sedikit dari mereka yang meneruskan pendidikannya. Masa remaja anak yang menyenangkan pun tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya. Tentu bukan hal mudah jika di usianya yang muda, seorang anak harus mengurus sebuah keluarga dan bertindak sebagai orangtua bagi anak-anaknya.

Dari penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini merupakan salah satu isu krusial yang dihadapi bangsa ini. Karenanya, mari dukung kampanye pemerintah untuk menekan angka pernikahan dini dengan aktif memberikan informasi pada lingkungan sekitar mengendai dampak negatif dari pernikahan dini. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here