Tips Mengenali Gejala Keracunan Escherichia coli atau E.coli

www.sehatfresh.com

SehatFresh.comEscherichia coli atau E.coli adalah segolongan bakteri yang normalnya hidup dalam usus manusia dan hewan tanpa menimbulkan masalah apa pun. Bakteri usus memang merupakan elemen penting dalam kesehatan manusia. Namun, beberapa jenis E. coli dapat menimbulkan penyakit (disebut sebagai bakteri patogenik) dan memicu nyeri saluran cerna dan diare berdarah. E.coli patogenik dapat menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi, juga kontak dengan hewan atau orang-orang yang kurang menjaga kebersihan. Keracunan E.coli bisa menyerupai gejala penyakit lainnya. Walaupun demikian, mengenali infeksi E.coli dengan tepat sangatlah penting karena bisa berakibat fatal jika gejala maupun komplikasinya tidak ditangani.

  1. Perhatikan adanya diare berdarah. Sebagian besar galur colisama sekali tidak berbahaya, sementara sebagian lainnya dapat memicu diare ringan berdurasi relatif singkat. Namun, beberapa galur patogenik E.coli yang agresif seperti O157:H7 dapat menyebabkan gangguan saluran cerna berat serta diare berdarah. Galur E.coli yang paling patogenik, termasuk juga O157:H7, mampu menghasilkan racun penghancur lapisan usus, akibatnya keluar darah berwarna merah cerah bersama dengan tinja encer. Racun ini disebut Shiga dan bakteri penghasilnya disebut sebagai E.coli penghasil racun Shiga (Shiga toxin-producing E.coli atau disingkat dengan STEC). Galur STEC lain yang lebih sering ditemukan di Eropa disebut sebagai 0104:H4.
  • Diare berdarah akibat infeksi coli O157:H7 umumnya dimulai 3-4 hari setelah tubuh terpapar bakteri, walaupun demikian, gejala ini dapat timbul dalam waktu 24 jam atau paling lama 1 minggu.
  • Mendiagnosis infeksi coliserius cukup mudah dan dilakukan dengan mengirimkan sampel tinja ke laboratorium untuk dites dan ditumbuhkan sehingga keberadaan racun dan galur STEC dapat diketahui.
  • Tidak seperti bakteri patogenik lainnya, galur STEC dapat menyebabkan infeksi berat sekalipun hanya tertelan dalam jumlah relatif sedikit. 
  1. Perhatikan nyeri pada saluran cerna. Seiring timbulnya iritasi dan luka pada lapisan usus besar akibat racun Shiga, nyeri perut sering kali terasa. Nyeri ini biasanya terasa seperti kram perut berat disertai rasa sakit menyengat. Nyeri ini dapat menyebabkan penderitanya meringkuk dan tidak mampu bepergian atau bahkan berjalan di dalam rumah. Namun, tidak seperti penyebab kram perut lainnya, infeksi STEC biasanya tidak disertai dengan perut kembung ataupun pembesaran perut.
  • Onset kram dan nyeri perut yang timbul tiba-tiba biasanya disusul dengan diare berdarah dalam waktu 24 jam.
  • Infeksi colidialami oleh semua usia, namun paling sering menyerang anak-anak, manula dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah.
  • Sekitar 265.000 kasus infeksi STEC terjadi setiap tahun di AS dan sekitar 36%-nya disebabkan oleh galur O157:H7.
  1. Ingatlah bahwa sebagian kasus infeksi dapat memicu muntah. Selain kram perut berat dan diare berdarah, beberapa penderita infeksi coli juga mengalami mual dan muntah. Walaupun penyebabnya tidak selalu jelas, tampaknya racun Shiga tidak bertanggung jawab langsung menyebabkan mual dan muntah. Mual dan muntah ini lebih diakibatkan oleh bakteri invasif yang menggali ke dalam lapisan usus. Nyeri yang ditimbulkan akan memicu pelepasan adrenalin dan hormon lainnya sehingga mengakibatkan mual dan muntah. Dengan demikian, berusahalah untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh selama melawan infeksi E.coli dan menghindari makanan berlemak atau berminyak yang dapat memicu mual.
  • Gejala minor lain yang terkadang dihubungkan dengan infeksi  colimeliputi demam ringan (kurang dari 38,3˚C) dan kelelahan.
  • Sumber infeksi  coli terbanyak adalah makanan yang terkontaminasi seperti daging giling yang terkontaminasi, susu yang tidak dipasteurisasi dan sayuran yang tidak dicuci.
  1. Waspadai komplikasi serius pada ginjal.Tidak seperti patogen coli lain yang tetap tinggal dalam membran usus, galur STEC bersifat invasif. Setelah memperbanyak diri dengan cepat, bakteri ini akan berikatan erat dengan lapisan usus dan masuk ke dalamnya, akibatnya racun bakteri terserap ke dalam dinding saluran cerna. Setelah masuk ke dalam sirkulasi darah, racun Shiga akan menempel dengan sel darah putih dan terbawa ke ginjal dan memicu inflamasi akut serta gagal organ yang disebut sebagai hemolytic uremic syndrome atau HUS. Gejala HUS antara lain urine berdarah, berkurangnya volume urine, kulit sangat pucat, luka lebam tanpa sebab, kebingungan, mudah marah dan pembengkakan pada sekujur tubuh. Sebagian besar penderita HUS harus dirawat di rumah sakit hingga fungsi ginjalnya membaik.
  • Walaupun sebagian besar penderitanya dapat pulih, HUS dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen atau kematian pada sebagian kecil penderita lainnya.
  • Infeksi STEC merupakan penyebab gagal ginjal akut terbanyak pada bayi dan balita.
  • Dokter mungkin meminta Anda menjalani tes darah lengkap dan fungsi ginjal jika gejala HUS muncul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here