Tradisi Petekan Suku Tengger di Jawa Timur

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger-Semeru, Jawa Timur terkenal dengan pesona alam dan keindahannya. Namun selain itu, wilayah tersebut juga terkenal dengan keunikan tradisi budaya masyarakat Suku Tengger yang hingga sekarang masih memegang teguh adatnya. Suku Tengger tinggal di sebuah desa yang bernama Ngadas. Desa tersebut terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Masyarakat Desa Ngadas melestarikan berbagai tradisi dan budaya leluhurnya, salah satunya adalah tradisi petekan.

Nama tradisi Petekan di ambil dari kata jawa “petek” yang artinya tekan atau ditekan. Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilakukan dengan cara menekan perut seorang gadis atau janda dari desa Ngadas untuk memeriksa keperawanan dan kehamilan, khususnya bagi wanita yang berada pada usia subur. Dalam dunia medis tradisi Petekan lebih dikenal dengan istilah teknik palpasi. Teknik ini biasa digunakan oleh bidan atau dokter untuk mendeteksi keberadaan janin di dalam perut. Pelaksanaan tradisi petekan ini dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang yang telah berpengalaman dan berpengaruh di Desa Ngadas. Tim yang menangani tradisi petekan ini antara lain dukun bayi, ketua linmas, ketua pemuda, kepetengan (jogo boyo) dan legen atau pembantu dukun adat.

Tradisi Petekan di desa Ngadas sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1955 dan masih terus dilestarikan sampai sekarang, dilakukan setiap tiga bulan sekali. Tujuan dari dilakukannya tradisi ini supaya mayarakat di daerah tersebut tidak ada yang berani melakukan seks bebas atau melakukan hubungan seks di luar pernikahan yang sah.

Sanksi adat

Suku Tengger memberikan sanksi adat yang cukup berat terhadap masyarakatnya yang melakukan hubungan seks diluar nikah. Berikut ini beberapa sanksi yang diberikan.

Bagi wanita yang tinggal di suku Tengger dan hamil di luar nikah, dirinya akan dikenakan hukum adat. Apabila wanita tersebut berstatus lajang atau belum menikah, maka pria yang menghamilinya akan segera dicari. Apabila pria tersebut juga masih lajang, maka keduanya akan segera dinikahkan secara adat di suku tengger.

Selain dinikahkan, pelaku seks bebas di suku Tengger juga akan dikenakan denda berupa memberikan sejumlah sak semen. Bagi pelaku yang sama-sama masih berstatus lajang, masing-masing di denda 50 karung sak semen. Tetapi, apabila pelaku pria ternyata sudah menikah, maka keduanya (wanita dan laki-laki pelaku seks bebas) akan mendapat hukuman dengan cara dipermalukan di desa.

Kemudian, jika salah satu pelaku telah memiliki pasangan atau berkeluarga, maka denda yang dharus dibayarkan menjadi lebih berat. Pelaku laki-laki di denda 100 sak semen. Sedangkan perempuan di denda 50 sak semen.

Tradisi Petekan membuktikan bahwa seks adalah hal yang sakral bagi masyarakat di Suku Tengger, selain itu masyarakat Suku Tengger percaya apabila para masyarakat tidak bisa menjaga tradisi tersebut maka bencana akan datang. Oleh sebab itu, ritual ini sampai sekarang masih dilestarikan dikawasan suku Tengger. (AGT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here