Tuli Akibat Merokok Pasif Pada Remaja

SehatFresh.com – Kita semua tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Dalam kemasan rokok pun telah disebutkan bahwa merokok menyebabkan darah tinggi, serangan jantung, stroke, dan kanker paru-paru. Tidak hanya itu saja, ternyata mereka yang merokok aktif atau merokok pasif juga berisiko tuli. Pada perokok pasif, mereka yang terbiasa terpapar asap rokok di lingkungan sejak kecil berisiko menjadi tuli saat remaja.

Asap rokok pasif atau sekunder adalah kombinasi dari asap dari rokok yang terbakar dan asap dihembuskan oleh perokok aktif. Ini disebut juga environmental tobacco smoke (ETS). Berada di lingkungan asap rokok meningkatkan risiko infeksi telinga pada anak-anak dan durasi penyakit tersebut juga mungkin menjadi lebih lama.

Asap rokok yang tanpa sengaja terhirup dapat mengiritasi tuba eustachius, yaitu saluran yang menghubungkan bagian belakang hidung dengan telinga tengah. Akibatnya, terjadi pembengkakan dan penyumbatan yang pada akhirnya mengganggu pemerataan tekanan di telinga tengah sehingga menimbulkan rasa nyeri, keluarnya cairan dan infeksi. Selain infeksi, anak yang terpapar asap rokok sejak kecil berisiko tuli hingga dua kali lipat di usia remajanya.

Studi yang dipublikasikan tahun 2011 dari New York University School of Medicine melaporkan bahwa paparan asap tembakau melipatgandakan risiko gangguan pendengaran di kalangan remaja. Studi ini melibatkan lebih dari 1.500 remaja berusia 12 tahun hingga 19 tahun yang dipilih dari data National Health and Nutrition Examination Survey pada tahun 2005-2006 di Amerika Serikat. Para remaja awalnya dievaluasi di rumah masing-masing dan kemudian diberi tes pendengaran dan tes darah ekstensif untuk uji cotinin (produk utama hasil penguraian nikotin) di sebuah pusat medis.

Para remaja yang terpapar asap rokok, yang diketahui dari kadar cotinin dalam darah mereka, lebih mungkin untuk memiliki gangguan pendengaran sensorineural. Gangguan ini paling sering disebabkan oleh masalah dengan koklea (organ telinga bagian dalam yang berbentuk siput). Gangguan pendengaran semacam ini biasanya hanya terjadi seiring penuaan atau memang bawaan lahir (tuli kongenital).

Lebih lanjut, studi ini melaporkan bahwa remaja yang terpapar asap rokok menunjukkan hasil yang buruk ketika tes frekuensi suara, terutama pada frekuensi sedang ke tinggi yang penting untuk memahami pembicaraan. Remaja dengan tingkat cotinin yang lebih tinggi menjadi lebih mungkin untuk memiliki gangguan pendengaran satu sisi atau gangguan pendengaran unilateral frekuensi rendah. Secara keseluruhan, para peneliti menyimpulkan bahwa asap tembakau secara independen terkait dengan peningkatan risiko hingga dua kali lipat untuk gangguan pendengaran di kalangan remaja.

Ironisnya, gangguan pendengaran akibat merokok pasif ini seringkali tidak disadari dan pada akhirnya kondisi menjadi lebih parah. 80% partisipan dari studi itu ternyata sudah terindikasi gangguan pendengaran yang parah. Tetapi, mereka tidak merasakan keluhan apapun. Seiring waktu, remaja yang mengalami gangguan pendengaran akan mengalami kesulitan ketika  belajar di sekolah dan mereka juga mungkin harus menggunakan alat bantu dengar untuk menunjang aktivitas hariannya.

Paparan asap rokok meningkatkan risiko infeksi yang pada akhirnya bisa menghalangi suplai darah ke telinga. Kerusakan akibat hal ini “halus” tapi efeknya serius. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat yang lebih kompleks. Bagaimanapun juga, sangat penting untuk melindungi pendengaran dan kesehatan anak-anak Anda dari paparan asap rokok yang membahayakan. Menjadikan rumah sebagai rumah yang bebas asap rokok merupakan cara utama untuk mengurangi dan menghindari paparan asap rokok dari perokok aktif. Jika pergi ke tempat umum, sebisa mungkin jangan berlama-lama di lingkungan yang penuh dengan asap rokok.

Sumber gambar : www.dokterkamu.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY