Usia Pria yang Rentan Terkena Sindrom Testosteron

0
3
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Seiring bertambahnya usia, kesehatan seseorang cenderung menurun. Bagi pria, menurunnya kesehatan ini bisa mencakup kondisi testosteron. Ya, banyak pria yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami sindrom penurunan kadar testosteron.

Pria yang mengalami kekurangan testosteron disebut juga dengan hipogonadisme atau sindrom defisiensi testosteron (TDS). Kondisi ini terjadi karena kemampuan testis menurun dalam memproduksi testosteron yang memadai.

Gejala utama kadar testosteron yang rendah adalah penurunan libido, disfungsi ereksi, mudah lelah, mudah berkeringat, penambahan lingkar pinggang, peningkatan massa lemak di bagian perut, dan mengantuk setelah makan.

Sayangnya, masih banyak pria yang mengabaikan gejala-gejala tersebut karena dianggap lazim terjadi di usia lanjut. Padahal, kekurangan hormon testosteron pada tubuh pria bisa mempengaruhi perkembangan seksual, kesuburan, meningkatkan risiko berbagai penyakit kronik hingga menyebabkan kematian jika tak segera diatasi.

“Hipogonadisme merupakan gejala klinis di mana seorang pria mengalami kekurangan testosteron akibat testis gagal memproduksi testosteron fisiologis. Kondisi ini dapat dialami oleh seorang pria sejak dari lahir atau dialami oleh seorang pria pada usia yang semakin lanjut,” ujar Dr. Nugroho Setiawan.

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ini membuat banyak pria yang mengabaikan gejala-gejala umum TDS.

“Dampak TDS yang sangat menganggu bagi pria, baik secara psikologis dan kesehatan, adalah penuruan libido dan DE (disfungsi ereksi-Red). Tidak perlu malu untuk berkonsultasi tentang penurunan libido dan DE,” katanya.

Testosteron bukan hanya memungkinkan seorang pria untuk memliki ereksi dan hasrat seksual (libido). Testosteron pun juga penting untuk mempertahankan massa otot, tulang yang sehat, dan suasana hati yang positif.

Penurunan TDS secara umum masih jarang terdiagnosa. Menurut penelitan di Inggris, saat ini sekitar 414.000 pria atau 18% pria mengalami DE. Ini kemudian menyebabkan sejumlah pria menjalani terapi testosteron.

Banyak pria tidak menyadari bahwa dirinya mengalami TDS setelah menginjak usia tertentu. Sindrom ini biasanya menyerang pria yang telah menginjak usia 42 tahun. Manusia sendiri, baik pria atau wanita, memiliki tingkat maksimal kesehatan di usia 25 sampai 30 tahun.

Dokter Nugroho menambahkan, orang-orang di atas usia 30 tahun pasti perlahan mengalami kemunduran kesehatan. Namun, apakah kemunduran itu cepat atau lambat tergantung gaya hidup.

Namun, ternyata, hipogonadisme tidak hanya didominasi oleh orang-orang berusia senja. Pria di bawah usia 25 tahun pun dapat mengalami gangguan hipogonadisme.

“Kalau mereka mempunyai gaya hidup yang buruk, menderita penyakit penyerta, atau tinggal di tempat dengan lingkungan yang kotor, baru umur 20 tahun juga bisa mengalami hipogonadisme. Testosteron berkurang, walaupun persentasenya tidak terlalu tinggi,” kata Dokter Nugroho. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY