Vaginoplasti atasi kendurnya organ intim dan kurangnya sensasi seksual

0
14082

Hamil dan bersalin merupakan salah satu momen yang “wow” dalam kehidupan wanita. Jika ditanya hampir semua wanita Indonesia menginginkan bersalin secara normal. “Rasanya belum sempurna jadi ibu kalo belum ngrasain lahiran normal”, kata seorang ibu. Padahal apapun metode persalinannya kan tetap jadi ibu kan..

Penyebab kendornya otot vagina

Dalam persalinan  saat bayi keluar melalui jalan lahir, otot, fasia dan ligamen dapat mengalami robekan dan menjadi lemah dan longgar. Otot perineum dan dasar panggul yang turut menyokong vagina juga dapat mengalami hal yang sama.  Kerusakan otot vagina dan dasar panggul dapat terjadi pada persalinan bayi besar. Kategori bayi besar apabila bayi lahir dengan berat diatas 3500 gram. Otot vagina akan meregang secara maksimal dan sering kali dokter atau bidan penolong melakukan episiotomi (tindakan menggunting vagina dan vulva untuk melebarkan jalan lahir) untuk mempermudah persalinan. Apalagi saat dokter menggunakan alat bantu seperti vakum atau forcep/cunam yang dapat mencederai otot vagina dan dasar panggul.

Walaupun terjadi cedera pada otot vagina pada saat persalinan, seharusnya tenaga kesehatan yang menolong dapat dengan teliti melakukan repair pada otot tersebut. Namun kadang tindakan tersebut tidak dilakukan dengan baik karena kondisi tertentu misal: robekan terlalu dalam, fasilitas peralatan yang tidak lengkap, kompetensi dan pengalaman penolong yang kurang dan sebagainya.

Apakah kendornya vagina selalu karena persalinan normal ?

Ternyata lemahnya otot vagina dan panggul juga dapat dialami wanita yang belum melahirkan ! Penyebabnya bisa karena: lemahnya jaringan penyokong otot (genetik), batuk lama, dan peningkatan tekanan rongga perut seperti mengangkat berat, atau kegemukan.  Diameter vagina menjadi lebih besar, kehilangan kekuatan jepitan dan kontrol pada kontraksi otot vagina. Akhirnya menyebabkan hilangnya sensasi dan kenikmatan seksual. Pada tahap ini vagina tidak berfungsi secara optimal.

Selain itu, faktor penuaan, dan faktor genetik kerap kali juga menyebabkan gangguan  fungsi vagina.

Masalah ini dapat menyebabkan gangguan dalam rasa percaya diri, rasa kepuasan dalam hubungan intim dan berpengaruh pada kehidupan seksual keluarga. Cara ampuh untuk memperbaikinya adalah melakukan peremajaan vagina (vaginal rejuvenation) yang juga dikenal sebagai vaginoplasty.

Vaginal Rejuvenation/Vaginoplasty

Vaginoplasty merupakan tindakan rekonstruksi pada vagina  untuk membentuk kembali vagina yang normal. Tindakan Vaginoplasty bertujuan untuk membentuk kembali dan  mengencangkan otot vagina, perineum dan dinding panggul sehingga vagina kembali ke keadaan bentuk dan fungsi  “pra-kehamilan”. Vaginoplasty bahkan sangat dianjurkan pada wanita yang mengalami “penurunan”  organ perut seperti kandung kemih (sistokel), saluran uretra (uretrokel), rektum (rektokel) atau  usus (enterokel). Juga pada keluhan inkontinensia dimana penderita tidak dapat menahan keluarnya air seni atau feses yang keluar secara spontan.  Proses perbaikan bentuk vagina sekaligus perineum dan otot dasar panggul dapat menyebabkan peningkatan gairah dan kepuasan seksual bagi wanita (dan juga laki-laki)!

Bagaimana proses vaginoplasty ?

Tindakan vaginoplasty dapat dilakukan di Indonesia, tidak perlu pergi ke luar negeri. Vaginoplasty dilakukan dengan cara membuang jaringan yang berlebih, merapatkan jaringan penyokong dan otot dinding vagina, perineum dan dasar panggul. Tindakan ini akan membuat vagina menjadi rapat kembali.

Sebelum melakukan operasi sebaiknya pasien melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan yang berpengalaman melakukan vaginoplasty. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium atau radiologi (rontgen) untuk persiapan operasi. Operasi sebaiknya tidak dilakukan pada saat menstruasi.

Sakitkah operasi vaginoplasty ? Jangan khawatir, saat operasi pasien akan dibius. Biasanya operasi dilakukan dengan melakukan pembiusan regional (blok sakral) namun bisa juga dilakukan dengan bius umum atau pada kasus yang tidak parah dapat dilakukan pembiusan lokal.

Tindakan berlangsung dalam satu hingga dua jam. Apabila pembedahan tidak banyak manipulasi daerah sekitar kandung kemih dan saluran kemih uretra, secara prinsip pasien dapat pulang pada hari yang sama (one day care). Setelah tindakan pasien tidak perlu bedrest, dapat berjalan dan melakukan kegiatan ringan. Kadang pasien mengeluhkan adanya perdarahan ringan atau nyeri akibat pembengkakan pada daerah operasi. Namun biasanya akan hilang dalam waktu satu atau dua hari. Selama proses penyembuhan pasien dilarang untuk berhubungan intim, olah raga berat, douching atau memasang tampon dalam waktu 6-8 minggu setelah operasi.

Dr. Prima Progestian, SpOG, Cht

  • RS Muhammadiyah Taman Puring, Brawijaya Women Hospital, Klinik Permata Bintaro
  • Website: www.drprima.com
  • Twitter : @dokter_prima
  • Facebook: drprima

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY