Waspadai Equinox dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Equinox, kata yang mulai terdengar akrab. Apalagi yang sering mendapat posting-an dan broadcast melalui media sosial atau smartphone. Sebenarnya, apa sih equinox itu? Apakah dampaknya bisa membahayakan kesehatan?

Equinox adalah satu fenomena astronomi matahari melintasi garis khatulistiwa. Fenomena ini secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September.

Menurut Direktur Eksekutif Centre for Information and Development Studies (CIDES) M. Rudi Wahyono, khalayak luas patut mewaspadai potensi munculnya suhu panas yang ekstrem sejak Senin (20/3/2017) hingga akhir Maret tahun ini.

“Hal ini terkait dengan fenomena alam bernama Equinox, di mana posisi matahari tepat di ekuator pada 20 Maret 2016. Dengan kondisi intensitas matahari yang sangat kuat saat ini memang akan dirasakan panas yang menyengat,” ujarnya.

Rudi memaparkan, suhu rata-rata bumi pada Februari 2016 naik sebesar 0,6668 derajat Celsius. Citra suhu atmosfer pada 19 Maret 2016 bisa menggambarkan bahwa suhu ekstrem panas terjadi di lautan Hindia, Pasifik, dan daratan Asia Selatan. Di samping itu, suhu cukup panas di Indonesia terjadi di ujung Sumatera dari Aceh sampai Lampung, juga Kalimantan.

Namun, kata Rudi, suhu panas ekstrem yang melanda Indonesia efeknya tak akan separah di India dan Pakistan pada tahun 2015 yang sampai menelan korban jiwa.

Indonesia, Rudi meneruskan, beruntung karena dikelilingi laut yang bisa menghambat laju kenaikan suhu daratan sehingga tidak sampai menimbulkan gelombang panas (heatwave).

Meski begitu, Rudi tetap meminta masyarakat waspada hingga akhir Maret tahun ini. Terlebih bagi yang beraktivitas di luar ruangan antara pukul 11 siang sampai 3 sore. Cuaca panas yang berpotensi terjadi juga sangat berisiko bagi anak-anak, manula, dan orang yang sensitif terhadap panas matahari.

Kenaikan suhu bumi mungkin memang tidak ekstrem. Namun, dampak sinar matahari (berupa sinar visible, infrared, dan ultraviolet) bisa berbahaya bagi kesehatan. Ancaman tak langsung peningkatan suhu lingkungan akan mendorong terjadinya distribusi geografi dan elevasi serangga berbahaya, seperti nyamuk dan jenis penyakit infeksi lainnya.

Merebaknya berbagai penyakit berbahaya, contohnya malaria, demam berdarah serta ancaman virus Zika dan lainnya, langsung maupun tak langsung berkaitan dengan kondisi cuaca di bumi. Demikian juga penyakit lain, seperti kanker, penurunan kekebalan tubuh, dan kebutaan. Maka, patut diwaspadai pula pengaruh meningkatnya intensitas cahaya matahari terhadap kesehatan.

Dampak sinar matahari berlebih secara spontan akan meningkatkan dehidrasi, sintesa vitamin D (positif), perubahan pigmentasi kulit, tekanan kekebalan tubuh, penurunan tekanan darah hingga depresi. Tak hanya itu, kanker kulit adalah salah satu dampak tertunda dari eksposur sinar matahari yang berlebih.

Oleh sebab itu, masyarakat perlu melakukan adaptasi dan antisipasi menghadapi peningkatan radiasi matahari dan suhu udara. Meminum minimal delapan gelas sehari atau disesuaikan dengan kebutuhan tubuh adalah langkah antisipasi yang mudah dilakukan oleh setiap orang. Langkah lainnya yang bisa Anda lakukan ialah menjaga pola gizi seimbang dan melindungi diri dari teriknya matahari. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here