Waspadai Gejala Depresi pada Remaja

0
225

SehatFresh.com – Perubahan suasana hati (mood), uring-uringan, murung sudah menjadi hal umum pada masa remaja. Kesehatan mental dan penalaran yang belum matang secara sempurna membuat remaja cenderung mudah untuk merasa sedih dan tertekan ketika dihadapi permasalahan hidup yang traumatis. Perasaan sedih sementara sangatlah wajar. Namun, bagaimana jika anak remaja Anda murung tak berkesudahan?.

Nah, ini bisa mengindikasikan masalah serius. Perasaan sedih dan tertekan terus-menerus bisa menjadi salah satu gejala depresi remaja.

Depresi remaja

Depresi remaja adalah masalah kesehatan mental serius yang menyebabkan perasaan sedih terus-menerus dan hilangnya semangat remaja dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Depresi ini dapat mempengaruhi daya pikir, perasaan dan perilaku dan dapat menyebabkan masalah emosional, fungsional dan fisik. Depresi pada remaja bisa disebabkan oleh berbagai hal. Masalah-masalah seperti tekanan teman sebaya, ekspektasi akademik dan perubahan fisik bisa membuat perasaan mereka menjadi campur aduk dan fluktuatif. Tapi bagi beberapa remaja mood swings ini dapat memicu gejala depresi.

Gejala depresi remaja

Gejala depresi pada remaja cenderung berbeda dengan gejala depresi pada orang dewasa. Gejalanya bisa dilihat dari perubahan emosi dan perilaku berikut.

      1. Perubahan emosi. Waspadai perubahan emosional pada anak remaja Anda, seperti :

  • Perasaan sedih seperti menangis tanpa alasan yang jelas.
  • Lekas ​​marah atau frustrasi karena hal-hal sepele.
  • Hilangnya minat dan semangat melakukan rutinitas sehari-hari.
  • Konflik dengan keluarga dan teman-teman.
  • Merasa tidak berharga, bersalah, dan terpaku pada kegagalan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri secara berlebihan (self-critic).  
  • Sangat sensitif terhadap penolakan dan kegagalan.
  • Seringkali merasa tidak tenang dan aman.
  • Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, membuat keputusan dan mengingat sesuatu.  
  • Senantiasa berpikir bahwa masa depannya akan suram.
  • Sering berpikir untuk mati atau bunuh diri.
  1. Perubahan perilaku. Depresi remaja biasanya diikuti perubahan perilaku, seperti :
  • Terlihat lesu dan tak bersemangat.
  • Insomnia atau tidur terlalu banyak.
  • Perubahan nafsu makan, seperti nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan, atau nafsu makan bertambah disertai dengan penambahan berat badan.
  • Penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Agitasi atau gelisah— misalnya, mondar-mandir, meremas-remas tangan atau tidak bisa duduk diam.
  • Penurunan kemampuan berpikir, berbicara atau bergerak.
  • Sering mengeluh merasakan nyeri dan sakit kepala yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
  • Presensi sekolah yang buruk atau sering absen.
  • Mengabaikan penampilan— seperti pakaian yang tidak serasi dan rambut acak-acakan.
  • Seringkali menunjukkan perilaku yang mengganggu dan berisiko bagi dirinya sendiri dan orang sekitar.
  • Merugikan diri sendiri, seperti melukai, membakar, atau menusuk bagian tubuh secara berlebihan atau menato tubuh.

Penyebab depresi remaja

Penyebab depresi pada remaja belum dikehui dengan pasti, namun depresi ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor, meliputi :

  • Kimia biologi. Neurotransmitter adalah bahan kimia alami pada otak yang berhubungan dengan gejala depresi. Ketika bahan kimia ini tidak seimbang, hal itu dapat memicu terjadinya depresi.
  • Hormon. Perubahan keseimbangan hormon dalam tubuh juga diduga dapat memicu timbulnya depresi.
  • Sifat bawaan. Depresi lebih sering terjadi pada orang-orang dengan  kerabat biologis yang juga rentan mengalami depresi.
  • Trauma masa kecil. Peristiwa traumatis masa kanak-kanak, seperti penyiksaan atau kehilangan orang tua, dapat menyebabkan perubahan dalam otak yang membuat seseorang lebih rentan terkena depresi.
  • Terbiasa diajarkan untuk berpikir negatif. Depresi remaja dapat dikaitkan dengan kebiasaan merasa rendah diri, tak berdaya dan tak berharga daripada berpikir positif dan mencoba memecahkan masalah.

Siapa yang lebih rentan mengalami depresi?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko berkembangnya depresi remaja, yang mencakup :

  • Mengalami masalah yang berdampak negatif terhadap harga diri, seperti obesitas, masalah dengan teman sebaya, intimidasi jangka panjang,  atau masalah akademik.
  • Pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual.
  • Memiliki kondisi lain seperti gangguan kecemasan, anoreksia atau bulimia, ADHD (Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder), atau masalah belajar.
  • Mengidap penyakit kronis seperti kanker, diabetes, atau asma.
  • Memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu, seperti rendah diri, atau terlalu tergantung kepada orang lain, self-critic atau pesimis.
  • Penyalahgunaan alkohol, nikotin atau obat-obatan terlarang.
  • Remaja perempuan, depresi lebih sering terjadi pada remaja perempuan dibandingkan laki-laki.
  • Gay, lesbian, biseksual atau transgender, golongan ini biasanya merasa terisolasi secara sosial atau mengalami intimidasi yang dapat meningkatkan risiko timbulnya depresi.

Riwayat keluarga dan masalah dengan keluarga atau orang lain juga dapat meningkatkan risiko remaja Anda mengalami depresi :

  • Memiliki orang tua, kakek atau anggota keluarga biologis lainnya yang rentan mengalami depresi, gangguan bipolar atau alkoholisme.
  • Memiliki anggota keluarga yang melakukan bunuh diri.
  • Memiliki keluarga yang tidak harmonis dan sering berkonflik.
  • Mengalami peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dan traumatis baru-baru ini, seperti perceraian orang tua, dinas militer orang tua atau kematian orang yang dicintai.

Apakah anak Anda menunjukkan gejala yang disebutkan di atas atau terkategori rentan terkena depresi? Segera tangani dengan tepat. Depresi remaja memang bukanlah suatu kelemahan, namun jika tidak diatasi dengan tepat dapat menimbulkan masalah lain yang jauh lebih serius seperti, misalnya, pikiran untuk bunuh diri. Hal ini tentunya sangat berbahaya. Segera hubungi dokter atau psikolog untuk informasi lebih lanjut. 

 Sumber gambar : bipolarcenterindonesia.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY