Waspadai Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir

0
4
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bayi yang baru lahir mempunyai kondisi tubuh yang masih lemah. Sebagai orangtua, Anda harus merawatnya dengan perhatian ekstra. Hal ini karena bayi baru lahir lebih rentan terhadap gangguan kesehatan. Salah satunya adalah penyakit kuning (ikterus).

Lebih dari 50% bayi bisa mendapatkan penyakit kuning pada minggu pertama kehidupan. Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning yang harus dikenali dan diwaspadai.

Sebetulnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya. Setiap jangka waktu tertentu, sel darah merah akan mati dan menguraikan sel-selnya di antaranya menjadi bilirubin. Normalnya, yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati.

Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibulah yang bertugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah bayi. Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Maka, terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Pemeriksaan adanya ikterus pada bayi muda dapat dilakukan di rumah dan pada waktu kunjungan neonatal. Untuk pemeriksaan gejala kuning di rumah adalah dengan membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan yang jelas atau dengan lampu fluorescent. Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari Anda secara perlahan-lahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan, dan telapak kaki. Kemudian, angkat tangan Anda dan perhatikan adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang ditekan tadi. Bila kulit bayi tergolong gelap, paling jelas bisa diteliti pada gusi atau bagian putih di area mata.

Pada dasarnya, ikterus pada bayi baru lahir dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yakni

Ikterus fisiologis (ringan)

  • Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
  • Kuning tidak sampai telapak tangan atau telapak kaki

Ikterus patologis (berat)

  • Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) kelahiran
  • Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari
  • Kuning sampai telapak tangan atau telapak kaki
  • Tinja berwarna pucat

Ikterus fisiologis tidak berbahaya. Penanganannya adalah bayi dijemur setiap pagi antara jam 7–9 pagi selama 30 menit sampai satu jam. Tingkatkan frekuensi pemberian ASI, minimal 8–12 kali sehari. Jika dirasakan sudah cukup menyusuinya, sebaiknya perhatikan apakah bayi benar-benar menghisap atau hanya mengempeng saja. Bila gejala masih tampak hingga lebih dari 14 hari, segera periksakan ke dokter.

Sementara itu, ikterus patologis berbahaya. Jika tidak segera ditangani, kadar bilirubin terus meningkat sehingga dapat meracuni otak. Bayi pun bisa mengalami kerusakan saraf yang dapat menyebabkan cacat, seperti tuli, pertumbuhan terhambat, atau kelumpuhan otak besar. Tak tertutup kemungkinan, ikterus patologis dapat menyebabkan kematian. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY